Selasa, 31 Juli 2012

Dunia yang Berubah

Kulihat akhir-akhir ini dunia tak lagi berada pada "tempat yang seharusnya". Semakin bertambahnya zaman, ia pun ikut berubah mengikuti perubahan zaman itu. Memang, sudah seharusnya ia tidak tinggal diam pada porosnya, tetapi perubahan yang dialaminya, kupikir, terlalu pesat.

Manusia mungkin tidak menyadari adanya perubahan-perubahan itu. Hanya siklus saja yang terkadang "berbicara". Manusia hanya bisa merasakan bahwa: duniaku sedang berevolusi. Yah, evolusi mungkin satu-satunya kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan yang ada saat ini. Entah apa yang akan terjadi esok dan esoknya lagi. Yang jelas, pada zaman ini dunia sedang mengalami perubahan.

Menurut apa yang kubaca pada sebuah media cetak maupun elektronik, adanya perubahan-perubahan itu tampak pada tingkah dan perilaku manusia juga. Peradaban yang tidak lagi memperhatikan perkembangan zaman. Sehingga, apa yang seharusnya lazim dikenakan menjadi tidak lazim - atau, bahkan tidak sedap dipandang mata.

Namun, aku yakin, ada maksud-maksud tertentu di balik perkembangan zaman itu. Dunia pun, menurut sebagian orang, tak banyak mengalami perubahan. Mereka mungkin berpendapat bahwa: dunia tidak berubah, tapi zaman yang berubah. Hmm, bisa juga dibilang begitu. Apapun itu, aku berasumsi bahwa dunia tak lagi berputar pada porosnya.
Share:

Jumat, 27 Juli 2012

Belajar Menjadi Seorang Pemasar

Kalau dilihat-lihat, dunia marketing sebenarnya tak jauh dari duniaku. Selama aku kuliah, aku juga diajarkan ilmu tentang bagaimana cara memasarkan barang atau produk. Tak mudah memang, tapi kalau kita sudah tahu cara-caranya, pasti akan jadi suatu pekerjaan yang mudah dan mungkin menyenangkan.

Memasarkan barang atau jasa tak semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan keahlian khusus untuk bisa mencapai suatu target atau pencapaian yang diinginkan. Tapi, dengan banyak membaca dan terjun ke lapangan untuk melakukan survei pasar secara langsung, tak ada yang tak mungkin.

Aku sebenarnya ingin belajar menjadi seorang marketer yang sukses. Tak jarang aku mencoba terjun ke dunia bisnis marketing, namun tak pernah membuahkan hasil. Memang sih, aku tak pandai memasarkan barang atau jasa. Karenanya, aku harus banyak belajar dari orang lain. Salah satunya, aku belajar dari teman sekaligus sahabatku, si penghuni60. Kulihat, ia sudah lumayan sukses menjadi seorang pemasar - di samping blognya yang juga ramai dikunjungi orang. Tapi, sedikit demi sedikit aku mengikuti jejaknya, yang intinya harus banyak membaca dan googling.

Di blog ini pun aku juga belajar memasarkan produk. Kuharap aku bisa menjadi seorang pemasar yang baik. Ke depannya, aku tak mungkin berhenti sampai disini saja. Aku akan terus belajar, sampai belajar itu dilarang (haha, becanda!). Intinya, aku akan terus belajar dan mengembangkan teknik-teknik untuk bisa menjadi seorang pemasar yang sukses, seperti orang-orang di luar sana. Kalau mereka bisa, maka tak menutup kemungkinan aku pun juga bisa.

Kalau ingin lihat apa yang kucoba pasarkan, silahkan lihat di sisi kanan blog ini. Ada amazon dan beberapa link di panel Hop Links. Tak seberapa banyak memang, karena ini baru awal sebagai proses pembelajaranku.
Share:

Rabu, 25 Juli 2012

Sahabat dari Seluruh Dunia

Memiliki seorang sahabat sungguh menyenangkan. Apalagi, jika sahabat kita bisa diajak bertukar pikiran dan selalu ada di setiap kita membutuhkannya. Memang, sih, sahabat bukanlah segala-galanya. Sahabat juga bukan salah satu dari anggota keluarga kita. Terkadang, sahabat terbaik pun bisa menjerumuskan kita ke pergaulan yang tidak sehat. Namun, ada kalanya kita membutuhkan keberadaan mereka di sisi kita.

Bagiku, sahabat adalah teman berbicara. Bagi sebagian orang, sahabat mungkin bisa berarti lain. Karena, seseorang lain yang kita sebut sahabat itu tidak mungkin bisa cocok dengan kita seratus persen. Ada satu dan lain hal yang membedakan sahabat dengan diri kita pribadi.

Aku masih ingat kala aku memiliki seorang sahabat. Tapi, aku tidak pernah bertemu dengannya. Gadis ini tinggal dan menetap di sebuah negara di kawasan Eropa. Tapi, ia adalah warga pribumi asli. Kupikir, sungguh menyenangkan bisa bersahabat dengannya. Beberapa bulan aku sempat berkirim pesan dengannya melalui pos. Tahun itu aku belum terlalu mengenal internet, begitu juga dia. Namun, lambat laun dengan berjalannya waktu persahabatan itu pun pudar dan menghilang. Aku sudah tidak ingat lagi dimana alamatnya. Aku juga lupa untuk mencatatnya. 

Persahabatanku itu aku jadikan pelajaranku berikutnya. Aku tidak merasa kecewa kehilangan satu sahabat, karena kupikir aku bisa mencarinya lagi yang benar-benar bisa menjadi seseorang yang dekat denganku, meski jarak tidak memungkinkan.

Aku pun berhasil memiliki beberapa sahabat dekat yang berasal dari berbagai negara. Diantaranya adalah: Korea Selatan, Rusia, Amerika, Swiss, dan Jerman. Walau terkadang susah untuk bisa bertemu dan bertatap muka dengan salah satu diantara mereka, tapi kuharap aku tidak kehilangan kontak dengan mereka untuk jangka waktu yang cukup lama. Kau tahu? Sungguh menyedihkan ketika kita harus kehilangan seorang sahabat yang sudah kita anggap seperti saudara sendiri. Aku pernah mengalaminya di dunia nyata, dan itu sangat membuatku terpukul.
Share:

Minggu, 22 Juli 2012

Malaikat Pelindung

Sosok putih besar itu berdiri di hadapannya. Tersenyum, namun ada satu arti dalam senyumnya. Ia tak pernah tahu apa maksud malaikat itu mendatanginya. Selama ini ia memang selalu berdoa, berharap ada seseorang atau sesuatu yang bisa menolongnya keluar dari semua penderitaannya. Tapi, ia tak pernah menyangka bahwa malaikat yang kini berdiri di hadapannya inilah yang dikirimkan Tuhan untuknya.

Untuk beberapa saat ia tak bisa berkata-kata, terpaku dan kakinya seolah menyatu dengan tanah tempatnya berpijak. Lalu, malaikat berjubah putih itu mengulurkan tangannya dan senyum itu masih tetap terkembang di sudut bibirnya.

"Ikutlah denganku," katanya.

Kening gadis kecil itu berkerut. Apa maksudnya? Ikut kemana? Namun, percuma saja, kata-katanya serasa tersangkut di tenggorokannya. Malam dingin yang menyelimutinya membuat otaknya tak mampu berpikir. Tak ayal, ia pun mengikuti perintah sang malaikat. 

"Kemana?" tanyanya. Tapi, malaikat itu tidak menjawab.

Perlahan, kakinya yang sejak tadi seolah menyatu dengan tanah sedikit terangkat, dan kemudian terangkat lebih tinggi lagi. Ia terbang. Terbang bersama malaikat pelindungnya. 

"Kalau aku meninggalkan duniaku, lalu bagaimana dengan mereka? Mereka akan mencariku," ujar gadis itu saat tubuhnya sudah tidak lagi berada di bumi.

"Kau tidak akan benar-benar pergi dari duniamu. Mereka tetap bisa menemukanmu, karena aku hanya membawa sebagian dari sisi gelap jiwamu," jawab malaikat itu.

Gadis kecil itu berpikir. Selama ini ia tidak sadar bahwa ia memiliki sisi gelap. Yah, ia hanya manusia biasa yang memiliki dua sisi kehidupan layaknya dua sisi mata uang. Ia akhirnya tersadar. Malaikat ini membawa sisi gelap manusianya untuk dibersihkan dan ketika saatnya tiba nanti ia akan dikembalikan ke tubuh manusianya dan menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya.
Share:

Selasa, 17 Juli 2012

Lilin itu Bak Genta di Malam Hari

Sesuatu berpendar di salah satu sudut ruangan yang gelap dan nyaris tak ada tanda-tanda kehidupan. Tapi, tidak, ada seseorang yang terus menatap sebuah nyala api kuning yang bergoyang-goyang disana. Ia tidak mati, tidak juga hidup. Matanya nanar menatap benda kecil panjang bersinar itu. Sebuah lilin kecil.

Tak ada yang tahu apa yang dilakukannya dengan lilin kecil dengan nyala yang tak begitu terang itu. Namun, satu yang dapat disimpulkan tatkala seseorang melihat jauh di kedalaman matanya. Sebuah harapan. Semua orang di sekelilingnya bisa memahami mengapa hanya lilin itu satu-satunya teman baginya ketika malam tiba. Ruangan gelap tempatnya disekap tak bisa memberikan kebahagiaan apa-apa baginya. Ia seperti burung dalam sangkar emas. Walau tak ada apapun yang tak bisa dimilikinya, tapi tidak dengan hati kecilnya. Banyak yang ingin diraihnya dalam hidupnya. 

Sesekali matanya memerah ketika ia terus menatap lilin kecil itu. Bukan karena apa-apa, tapi ia ingin menangis. Andai saja lilin itu merasakan seperti apa yang dirasakannya. Tapi, tak apa. Mungkin suatu saat nanti, ia bisa menjadi seseorang yang lebih baik dari ini. Mereka yang tidak tahu siapa dirinya yang sesungguhnya akan segera mengetahuinya cepat atau lambat.

Untuk sementara ini biarkanlah lilin kecil ini yang menemaninya saat malam dan meneranginya ketika ia harus menuliskan kisah pilunya di atas kertas putih dengan tinta hitam, agar mereka dapat mengenangnya ketika ia tiada nanti. Agar manusia-manusia di luar sana dapat menjadikan kisahnya sebagai pelajaran berharga yang tak dapat dibeli dengan apapun. Dan, lilin itu, lilin yang menjadi genta di malam hari, lilin yang seolah berdentang silih berganti dalam relung hatinya memecah kesunyian yang selama ini dirasakannya membuatnya merasakan kehidupan dan tidak hidup tapi seperti mati.
Share:

Jumat, 13 Juli 2012

Sebuah Inspirasi

Inspirasi. Menurut pemikiranku inspirasi adalah sesuatu yang tiba-tiba datang - entah dari mana, atau bisa datang dari mana saja (bahkan dari toilet) - dan membuat alam bawah sadar pikiran kita jadi tergerak untuk menciptakan sesuatu yang sama sekali baru. Layaknya seorang desainer. Ia terkadang bisa mendapatkan inspirasi ketika mungkin ia sedang pergi ke sebuah pedesaan yang tak banyak populasi penduduknya, dan ia menciptakan sebuah desain pakaian ala pedesaan yang kemudian dipadupadankan dengan nuansa glamour yang akhirnya membuat satu desain itu laris di mode pasaran dunia.

Itu hanya sebuah contoh. Namun, tak hanya orang terkenal dengan profesi besar saja yang bisa mendapatkan inspirasi. Orang-orang awam seperti kita pun juga bisa mendapatkannya, tergantung dari apa yang ingin atau akan kita kerjakan. Misalnya saja kita ingin membuat sebuah lukisan dengan tema kehidupan metropolis? Lalu, tanpa sengaja kita harus berbelanja ke sebuah pertokoan untuk membeli sesuatu. Di sebuah stand tempat kita berbelanja ada satu item yang mungkin menarik perhatian kita, kemudian otak kita langsung bereaksi dan menjadikannya sebagai bahan inspirasi. Andai saja stand ini memiliki area yang luas dibandingkan dengan stand-stand lain, kemudian berdiri di sebuah lahan yang penuh dengan pengunjung yang notabene-nya adalah para penggila belanja. Tentu, bisa dibayangkan, bukan?

Terkadang aku pun mendapatkan sebuah inspirasi, hanya saja aku tidak tahu apakah itu sebuah inspirasi atau hanya angan-angan belaka. Bagiku, beda keduanya sangatlah tipis. Pun, aku tak tahu harus kuapakan inspirasi itu. Mungkin sekali waktu aku adalah seorang manusia yang wajib untuk berkaca dan berintrospeksi. Apa yang salah dengan diriku, sehingga tatkala berjuta inspirasi datang menyapaku aku hanya bergeming dan membiarkannya berlalu tanpa ada hasil. Begitu pula sebaliknya. Disaat aku membutuhkan banyak inspirasi, pikiranku rasanya buntu dan seolah tak ada jalan keluar. Mungkinkah inspirasi itu merupakan suatu misteri alam? Entahlah.
Share:

Selasa, 10 Juli 2012

Melihat Dunia yang Sesungguhnya

Dunia tak lebih dari sekedar bola berisikan kekayaan dan keajaiban alam. Tuhan menciptakan semua itu hanya untuk kepentingan makhluk hidup. Awalnya, aku tak melihat semua itu. Aku hanya bisa merasakan bahwa dunia adalah tempat manusia dan makhluk lainnya hidup, bernapas, dan berinteraksi. 

Namun, aku salah. Hanya orang-orang berpikiran pendek yang berpikir seperti itu, mungkin termasuk aku salah satunya. Setelah aku amati dengan baik dan kucoba untuk berpikiran luas, dunia ternyata menyimpan segalanya yang dibutuhkan oleh manusia dan makhluk hidup lainnya : udara, hutan, lautan, pegunungan, dan masih banyak lagi.

Kekayaan-kekayaan alam itu mungkin dulunya tersedia banyak sekali, dan nyaris tak terbatas jumlahnya. Namun, entah kenapa, sekarang semuanya terasa seolah-olah sangat terbatas dan hampir bisa dikatakan langka. Mungkin, hanya sebagian masyarakat saja yang sadar akan hal itu - bahwasanya, kekayaan alam dan segala "aksesoris"-nya itu bisa saja habis sama sekali.

Di sisi lain aku juga berpikir bahwa usia Bumi memang sudah semakin tua. Namun, ketuaannya bukan karena ulah manusia. Yang aku pikirkan hanyalah bagaimana di usia Bumi yang menginjak senja ini manusia bisa menyadari apa yang seharusnya (bisa) dilakukan. Yah, seperti gencar menggalakkan penghijauan, atau mengurangi polusi udara dengan tidak terlalu banyak menggunakan kendaraan bermotor, atau mengurangi limbah yang bisa mencemari lingkungan, atau berbagai macam tindakan lain yang bisa memperpanjang usia Bumi. Aku hanya menyayangkan tingkat kesadaran manusia yang masih saja rendah dan tidak bisa berubah - mengingat Bumi adalah satu-satunya tempat mereka berpijak. Aku hanya tidak ingin membayangkan apabila Bumi sudah tidak bisa lagi memberikan kehidupan bagi manusia dan makhluk hidup lainnya, lalu dimana kita bisa hidup?
Share: