Nasib Surat Berprangko

Dulu, ketika teknologi informasi masih menjadi hal yang teramat asing, masyarakat suka berkirim-kirim surat dengan menggunakan kertas surat dan prangko. Aku pun kala itu juga menjadi salah satu masyarakat yang gemar berkirim surat melalui kantor pos dengan menggunakan kertas surat dengan beragam corak dan prangko. Bahkan, aku sempat menjadi anggota filateli. Menurutku - kala itu - mengoleksi bermacam-macam prangko sungguh merupakan suatu aktivitas yang menyenangkan. Apalagi, jika prangko-prangko koleksiku berasal dari berbagai belahan dunia. Dalam hal ini, aku juga sempat memiliki beberapa koleksinya dengan saling berkirim surat dengan beberapa sahabat penaku dari berbagai negara. Aku pernah menuliskannya di postingan sebelumnya.

Namun, kini, semuanya seolah tergerus oleh perkembangan jaman. Pesatnya pertumbuhan teknologi informasi bernama internet, seperti menenggelamkan fenomena surat berprangko yang dulu sempat eksis di mata masyarakat. Saat ini berkirim surat sudah bisa lebih praktis dan cepat dengan e-mail. Atau, apapun yang terkait dengan interaksi antar dua orang atau lebih, bisa dilakukan dengan lebih cepat dan mudah. Masyarakat jaman sekarang lebih memilih kecepatan penyampaian informasi, dimana informasi atau berita yang lebih cepat sampai dirasa lebih baik daripada mengirimkan berita tetapi harus menunggu beberapa hari atau minggu hingga berita itu diterima oleh orang yang bersangkutan.

Kepala Kantor Pos Surabaya Selatan Sulistijono menyatakan bahwa:
Di antara total 2.513 dokumen yang dikirimkan kantor pos cabang Surabaya Selatan per hari, surat berprangko hanya mencapai 420 surat. Sisanya, ada pada kiriman dokumen tunai.
Dalam hal ini, pengiriman dokumen tunai adalah jasa pengiriman yang tak memakai prangko, seperti pos ekspres dan titipan kilat. Namun, dengan berkembangnya teknologi internet yang kian hari kian canggih, berkirim surat dengan menggunakan prangko masih tetap ada walau jumlahnya tak sebanyak dulu.

Contohnya saja aku. Kupikir - secara pribadi - berkirim surat melalui e-mail memang cepat dan semua orang tahu itu. Hanya saja, terkadang aku seperti merindukan menulis surat dengan coretan tanganku sendiri, bukan mengetik diatas tuts keyboard. Untungnya, pihak kantor pos tidak semata-mata menghilangkan layanan berkirim surat dengan menggunakan prangko. Seperti yang diungkapkan oleh Manajer Komunikasi PT Pos Indonesia Abu Sofyan:
Itu sudah menjadi public service obligation (PSO) kami yang ditentukan pemerintah.
Hal itu dikarenakan PT Pos Indonesia merupakan salah satu BUMN (Badan Usaha Milik Negara), dimana segala regulasinya diatur oleh pemerintah sebagai satu bentuk nasionalitas.

Kutipan diambil dari: Jawa Pos edisi Selasa, 21 Agustus 2012

Komentar

  1. layanan pos yang kadang lambat, sehingga lambat juga tiba di alamat tujuan...meskipun memakai prangko kilat khusus..semakin membuat kantor pos semakin ditinggalkan, semestinya kantor pos indonesia bisa berinovasi dengan memberikan layanan ekstra cepat dengan nilai yang sama saat menggunakan prangko :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap, setuju banget! Karena, kadang-kadang memakai prangko kilat atau nggak sampai di tempat tujuan sama aja..

      Hapus
  2. saya rasa,di zaman karang ini ngrim surat lewat kntor pos bleh jg neh, sambil nginget masa bocah dulu..hehehe
    ngrimnya c mudah, tapi nunggunya kelamaan nyampek tujuan..ni c duluan yang dikirimin jamuran nunggu...
    kayaknya, kantor pos, musti sediain pintu ajaib, byar cpet nyampek..hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, iyaahh emang nyampenya lama, bayangkan aja surat prangko ibarat kura-kura, e-mail ibarat pesawat jet. Gak sebanding, kan? Tapi, kalo pengen bernostalgia nggak ada salahnya dicoba lagi.. :)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer