Sad, But Don't Cry!

Baru kali ini aku merasa galau. Padahal, sebelumnya aku tak pernah merasa seperti ini. Aku sedih. Terlebih, ketika aku baru saja membaca tulisan di sebuah blog yang tiba-tiba saja membuat hatiku seperti diiris-iris. Awalnya, ketika aku membaca judulnya aku sudah tidak tertarik, karena aku sudah pasti tahu tulisan itu berkisah tentang apa. Kenapa aku begitu bodoh yang nekat membuka tulisan itu dan parahnya lagi aku membacanya sampai habis. Atau, mungkin tanganku yang bergerak sendiri..?? Sesaat aku seperti terbius untuk terus membaca tulisan itu sampai akhir. Dan, anehnya aku tak bisa memalingkan mataku untuk tidak membacanya meski di tengah-tengah paragraf dadaku serasa perih, seolah separuh tubuhku mati rasa.

Aku tahu aku bukan siapa-siapa dan aku juga bukan apa-apa. Aku cuma manusia biasa yang diciptakan dengan sebuah perasaan di dalamnya. Aku takut terluka lagi untuk yang kesekian kalinya. Aku juga sadar dan bisa mengerti si penulis blog itu. Dia hanya menuliskan apa yang dirasakannya. Menulis apa yang menurutnya bisa membuatnya lebih baik - tanpa peduli siapapun dan apapun. 

Kesedihanku mungkin hanya aku yang bisa merasakan. Atau, aku yang terlalu sensitif?? Entahlah. Sejak aku ditempa dalam badai besar yang nyaris meruntuhkan pendirianku dan menghancurkan hidupku serta masa depanku, aku tidak lagi bisa melihat segala sesuatu yang terlihat mustahil dengan kepala dingin. Aku takut aku berubah menjadi sosok yang bukan diriku. Aku takut aku berubah menjadi orang lain. Terbukti ketika aku membaca tulisan itu, aku tak bisa mengendalikan emosiku. Siapa aku? Siapa juga dia? Dan apa hubungannya denganku? Tak ada. Dia bahkan tak tahu siapa aku. Kalau dia bahagia dengan caranya sendiri, lantas apa peduliku. Itu hak dia. Tapi, nyatanya aku peduli dan aku sedih karenanya!

Ada apa sebenarnya denganku? Biasanya aku tak terlalu peduli dengan urusan orang lain, terlebih jika aku tak mengenalnya. Tapi, aku serasa sudah mengenalnya sejak lama, meski aku bahkan tak tahu seperti apa wajahnya. 

Satu hal yang paling membuat lubuk hatiku serasa tersayat adalah kata-kata terakhirnya sebelum ia mengakhiri tulisannya. Aku tak pernah menyangka dia akan mengatakan itu. Kupikir menulis adalah jiwanya dan blog adalah napasnya. Tapi ternyata aku salah. Sadarkah dia dengan apa yang ditulisnya? Atau, aku yang memang sangat tidak mengenalnya dan salah mempersepsikan setiap kata-kata dalam blognya selama ini?

Komentar

Postingan Populer