Kamis, 26 September 2013

Sesuatu Itu

Minggu-minggu belakangan ini mungkin minggu-minggu terberat yang harus kujalani. Memang aku sudah terbiasa dengan aktivitas ini, hanya saja kali ini porsinya lebih padat. Jika beberapa waktu lalu aku sempat menulis tentang deadline atau semacamnya, kini deadline itu sudah berhasil kulalui. Lega rasanya. Dan, mungkin itu juga yang membuat otakku beku.

Seberat-beratnya apapun yang aku lakukan, tak seberat saat otak ini memikirkanmu. Bukan berat dalam artian aku harus seharian mengurung diri dalam kamar, lantas tidak makan dan tidak minum. Hanya saja frekuensinya bertambah. Namun, aku tak merasakan apa-apa. Yang ada hanyalah senyum ini selalu terkembang di sudut bibirku.

Semangat. Yah, 'sesuatu' yang membuatku sedikit 'gila' itu bernama semangat. Semangat yang kau kirimkan melalui jari-jari rinduku.

Mood Booster. Itu yang selalu dikatakan orang-orang ketika mereka harus menghadapi segala apapun yang membuat hati mereka jengah, dan menurunkan semangat.

"Aku capek sama semuanya!!" celetuk salah seorang temanku, pagi itu.

"Ada apa sih?!"

"Kamu tahu? Kerjaan ini rasanya nggak abis-abis! Diselesaiin satu, muncul yang lain, satunya di-draft, datang lagi yang lain!" umpatnya marah.

Aku mengernyit. "Itu emang udah resiko kali, Mbak. Yah, kerjain aja yang paling urgent dulu."

"Rasanya aku harus cari mood booster, dimana gitu," katanya tiba-tiba, lalu melanjutkan, "supaya semangatku bisa tumbuh lagi."

Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi mulutku terkatup rapat.

Ia melanjutkan. "Kamu sih enak, tiap pagi selalu senyum-senyum sendiri."

Aku tersenyum. Dalam hati aku merasakan bahwa, yah, mungkin memang besar artinya sentuhan semangat dari seseorang yang kita sayang. Bukan hal yang tabu, tapi itu memang bisa membuat semuanya menjadi lebih baik.

Aku tahu itu. 
Share:

Rabu, 18 September 2013

Deadline Akhir Bulan

Kalau dengar kata 'deadline' itu berarti artinya urgent alias semua harus serbacepat supaya pekerjaan tidak terbengkalai dan segala sesuatunya bisa tertangani dengan baik. Aku sendiri sebenarnya kurang suka dengan yang namanya deadline. Pasalnya, sederhana saja, kalau pekerjaan bisa diselesaikan sejak awal, kenapa tidak dilakukan? Giliran mendekati batas akhir baru semuanya kalang-kabut seperti kebakaran jenggot. Iya kalau apa yang dikerjakan sudah seratus persen benar, kalau ada salah atau kurang mungkin, istilah deadline hanya tinggal istilah saja, bukan? Pada akhirnya, semuanya akan sia-sia.

Pekerjaanku sebagai customer service selalu menuntutku untuk melayani setiap pertanyaan customer dan menjelaskan kepada mereka prosedur pemakaian jasa perusahaan pelayaran internasional tempatku bekerja. Pekerjaan ini memang impianku sejak aku duduk di bangku kuliah. Bisa bekerja di perusahaan asing yang memiliki reputasi bagus. Tapi, resiko yang harus aku jalani memang cukup menguras tenaga dan pikiran. Setiap minggu ekspor yang ditangani harus memenuhi space kapal yang disediakan. Bila diperlukan, satu perusahaan pelayaran joint slot dengan perusahaan pelayaran lain demi memenuhi space tersebut. 

Minggu-minggu ini termasuk minggu yang berat, meski masih pertengahan bulan. Tiap harinya aku bisa menghitung berapa kali aku mengangkat telepon dan berapa kali aku membalas e-mail customer tentang pem-booking-an space kapal. Cukup melelahkan, tapi aku menyukainya. Pekerjaan ini penuh tantangan, tapi aku tidak merasakan penekanan tertentu. 

Aku tidak membicarakan soal berapa salary yang kudapat. Tapi, yang jelas apa yang aku dapatkan sebagai imbalan itu sudah lebih dari cukup dari beratnya pekerjaan yang harus aku lakukan setiap harinya - dibentak customer, ditegur manajer ketika aku salah menempatkan port (pelabuhan) tujuan, bertanggungjawab ketika terjadi kesalahan serupa, dan lain-lain - dan aku sudah sangat bersyukur karenanya. 

Dan, kupikir deadline akhir bulan bukan seperti deadline-deadline lain seperti halnya orang-orang yang bekerja di bidang advertising atau publishing sebuah media cetak. Jika mereka mengejar deadline karena artikelnya harus segera naik cetak pada satu edisi tertentu, sedangkan aku mengejar deadline karena ekspor yang terjadi selama seminggu belum cukup untuk memenuhi space kapal sebesar 15.000 ton. Tapi, karena sistem yang diterapkan adalah team work, pekerjaan itu jadi terasa ringan. Jadi, apa yang tadinya kupikir deadline adalah sesuatu yang mencekam, nyatanya aku bisa santai menghadapinya. Intinya cuma satu : percaya pada diri sendiri. 
Share:

Selasa, 17 September 2013

Semanggi Berdaun Empat

Kalian pernah dengar istilah 'Semanggi Berdaun Empat'? Daun langka hasil mutasi genetik pada tumbuhan Semanggi, yang umumnya dipercaya membawa keberuntungan. Tumbuhan yang pada dasarnya hanya memiliki tiga daun ini secara teknik disebut leaflet.

Bicara soal keberuntungan, mungkin tak semua orang selalu mendapatkan keberuntungan secara beruntun. Aku juga tidak. Kalau sesekali mungkin iya. Tapi, aku pernah mendengar seseorang menanyakan pertanyaan aneh padaku. "Kenapa aku nggak seberuntung mereka?"

Aku cuma diam. Kupikir pertanyaan itu lazim dipertanyakan orang yang merasa bahwa orang lain lebih beruntung dari dia. Lalu kujawab, "Kau cuma belum mendapatkannya." Dalam hati kurasakan bahwa mungkin dia benar. Banyak orang beruntung di dunia ini, tapi bagi sebagian yang lain cenderung berpikir bahwa dunia tidak adil.

Pernyataan itu salah? Mungkin. Sesekali keberuntungan bisa menghampiriku dan membuntutiku sepanjang hari. Terkadang pula, ada kalanya, aku selalu dirundung sial tiga hari tiga malam. Itu normal, dan sesungguhnya aku masih tetap bersyukur bahwa aku masih diberikan sebuah keberuntungan.

Beberapa hari lalu, aku seolah merasa hidupku gelap tak bercahaya. Tapi, keberuntungan itu rupanya masih bersamaku. Aku berada di tengah orang-orang yang menyenangkan. Aku menemukan sebuah cahaya diantara mereka. Meski aku masih harus menyusun kembali puing-puing hatiku yang pecah berhamburan, kuharap cahaya itu untukku.

Ada sebuah petikan indah tentang semanggi berdaun empat yang pernah aku baca di salah satu situs :
Dipercayai sebagai simbol keberuntungan bagi orang Irlandia. Setiap daunnya melambangkan keberuntungan, cinta, kepercayaan, dan harapan. -Unknown
Share: