Senin, 25 November 2013

Taman Bungkul Kebanggan Surabaya

Kali pertama aku mengenal taman ini sekitar tahun 1990. Masih tergambar jelas di ingatanku bagaimana bentuk rupa taman yang sekarang menjelma menjadi taman superindah nan bersih, sehingga layak dijadikan sebagai sebuah ikon kota itu.

Dulu, taman ini hanya dipenuhi dengan rumput setinggi ilalang, dan beberapa mainan mirip di sekolah Taman Kanak-kanak. Tak ada yang istimewa, kecuali aura mistisnya yang masih bisa kuingat hingga detik ini.

Kini, Taman Bungkul sudah berhasil mengubah image-nya menjadi taman yang layak untuk dikenal dunia. Dengan beragam keunggulan yang dimiliki, nyaris tak ada taman serupa yang mampu menyainginya.

Religi. Ekonomi. Wisata. Olahraga. Adalah empat unsur utama kriteria taman ideal yang harus dimiliki sebuah spot area. Dan, Taman Bungkul memilikinya, dengan ditambah lagi sebuah sentuhan teknologi Wi-Fi demi melengkapi fasilitas yang ada di taman tersebut.

Ini kali kedua taman ini menerima penghargaan. Yang pertama adalah pada tahun 2011 dan sekarang sebuah penghargaan PBB bertajuk "The 2013 Asian Townscape Sector Award" berhasil diraihnya.

Semoga masyarakat Surabaya bisa menjaga fasilitas umum ini dengan baik dan akan tetap lestari hingga jangka waktu yang tidak ditentukan.

Powered by Telkomsel BlackBerry®
Share:

Selasa, 19 November 2013

Job, Friend, Love


Sekilas kalau baca judulnya, pasti kalian berpikir kalau aku plagiat dari film Julia Roberts yang syutingnya diambil di pulau dewata Bali. Eat, Pray, Love. Ya, kan?

But, trust me, aku sama sekali tidak ada niatan untuk meniru judul itu. Karena memang, tulisan aku kali ini ada hubungannya dengan pekerjaanku, teman-temanku, dan cinta.

Kalau bicara tentang pekerjaan, mau tidak mau ingatanku harus kembali ke sebuah masa dimana aku harus keluar-masuk perusahaan demi menjalani proses wawancara, yang panjang dan melelahkan. Tak jarang juga aku merasa bahwa aku mungkin harus menyerah dan putus asa karenanya. Tapi, ternyata, keinginan hatiku lebih kuat dari yang kubayangkan.

Tahun 2012, kesabaranku berbuah manis. Aku berhasil masuk sebuah perusahaan asing yang bergerak dalam bidang ekspor impor. Masuk perusahaan ini persis seperti yang selalu aku impikan. Dan, aku sungguh sangat bersyukur karenanya.

Bertemu dengan banyak orang-orang baru menuntutku untuk harus selalu bisa memahami lingkungan tempat dimana aku berada. Dan, aku pun memahami bagaimana aku harus bersosialisasi. Mungkin terdengar sepele, tapi semuanya tak semudah yang kubayangkan. Kuncinya hanya satu : bisa membawa diri dengan baik.

Sekarang, ketika aku sudah bisa mengatasi segala problema yang tadinya kupikir aku tak mampu, aku harus dihadapkan dengan kenyataan lain yang aku sendiri belum tahu apa jawabannya.

"Haruskah aku mengundurkan diri demi mengejar sebuah impian dan mencari pekerjaan baru yang dekat dengan impian itu?"

"Ataukah aku harus bertahan disini dan meninggalkan impian diatas impian dan membiarkan impian itu yang 'menghampiriku'?"

Dan, aku benci pada sebuah pilihan...

Ketika pada akhirnya aku harus memilih, aku tahu pilihan itu pastilah yang terbaik untukku dan untuk dia, seseorang yang selalu menghujaniku dengan kata-kata cinta dan semangat setiap kali kakiku melangkah.

"I Love You, G!"

Powered by Telkomsel BlackBerry®
Share:

Rabu, 13 November 2013

Runaway

And, I would runaway...
I would runaway...
I would runaway...
I would runaway...
With you...
(Lyrics by : The Corrs)

Kadang terbersit pikiran itu...

Runaway. Pelarian.

Jenuh dengan semua yang ada. Lalu, hanya ada satu jalan keluar, yang pasti, dan takkan meninggalkan jejak apapun...

Satu-satunya jalan hanyalah berlari...

Namun, ketika tiba saatnya aku harus berlari dari semuanya, hanya ada satu titik yang aku tuju...

Kamu.

Powered by Telkomsel BlackBerry®
Share:

Minggu, 10 November 2013

Surabaya and Traffic Jam

Tanpa aku sadari, hampir setiap hari aku mengecek kalender di meja kerjaku. Ini tak ada kaitannya dengan pekerjaan atau yang semacamnya - ya, walaupun aku memang harus punya desk calendar untuk menunjang pekerjaanku - tapi, ini lebih kepada perhitungan jatah aku terlambat masuk kerja setiap bulannya.

Sejak aku menerima peringatan dari pihak manajer beberapa bulan lalu, aku jadi lebih perhatian kepada waktu perjalananku dari rumah menuju kantor, dan batas waktu aku harus melakukan check-clock sebelum waktu yang ditentukan.

Tapi, jika aku menghitung lagi jatah aku terlambat untuk bulan ini, rasanya sudah hampir habis. Padahal, kupikir, aku sudah berangkat lebih pagi dari biasanya. Aku jadi berpikir, apa yang membuat kota Surabaya bisa jadi sebegitu macetnya dibandingkan Surabaya yang dulu? Apakah karena memang jumlah penduduk Surabaya yang bertambah ataukah karena volume kendaraannya yang meningkat?

Beberapa saat lalu, aku sempat membaca berita di harian pagi bahwa PemKot (Pemerintah Kota) Surabaya akan mencanangkan program AMC (Angkutan Massal Cepat), dimana nantinya penduduk kota Surabaya harus menggunakan AMC ini untuk menuju kemana pun mereka pergi - ke tempat kerja, ke mall, atau ke tempat-tempat tertentu. Sehingga, kemacetan bisa teratasi.

Pertanyaannya sekarang adalah : "Berapa banyak orang yang bersedia menggunakan AMC ini dan tidak akan menggunakan kendaraan pribadi, JIKA, dalam keseharian mereka telah terbiasa menggunakan kendaraan pribadi, walaupun hanya ke tempat kerja?"

Sejenak aku ragu. Lantas, aku juga berpikir : "Apa pula yang akan dilakukan PemKot untuk mensosialisasikan AMC ini, dan melakukan mind-setting di pikiran masyarakat bahwa 'ini' adalah salah satu cara untuk mengatasi kemacetan lalu lintas?"

Tapi, tak ada apapun yang mustahil dilakukan. Mereka pun mungkin mengalami hal yang sama sepertiku - terlambat masuk kantor hampir setiap hari - dan, mereka tentu akan berpikir bagaimana cara untuk mengatasinya.

Jadi, dengan kata lain, penerapan AMC ini dimungkinkan dapat efektif untuk mengatasi kemacetan di jantung kota Surabaya. Dan, semoga saja pembangunannya tidak terkendala oleh infrastruktur yang acapkali 'menghantui' proyek di kota ini.

Hari ini adalah hari Pahlawan. Surabaya harus bisa menjadi pahlawan bagi 'dirinya' sendiri. "Selamat Hari Pahlawan!!"

Powered by Telkomsel BlackBerry®
Share:

Kamis, 07 November 2013

UMK Surabaya 2014

Belakangan aku miris juga melihat demo buruh di sepanjang perjalanan jantung kota Surabaya. Tidak hanya sehari atau dua hari, tapi berhari-hari. Bukan karena apa, sih, tapi apa yang mereka lakukan itu secara tidak langsung telah merugikan banyak pihak. Dan, mungkin juga merugikan diri mereka sendiri.

Memang benar adanya bahwa mereka melakukan aksi itu jelas ada tujuannya, dan mereka harus memperjuangkannya demi kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Tapi, menuntut kenaikan UMK tidak semudah yang mereka bayangkan. Ada banyak aspek yang harus dipikirkan dibanding hanya sekedar membubuhkan tandatangan tanda setuju.

Bayangkan saja, di tahun 2013, UMK Surabaya sudah mencapai 1,7 dan mungkin tahun 2014 akan menjadi 2,2! Sungguh angka yang cukup fantastis, menurutku. Di satu sisi, angka ini mungkin akan menguntungkan bagi para buruh, tapi di sisi lain?

Sebagai contoh investor asing? Mana ada investor asing yang bersedia menggaji buruh - yang notabene-nya berjumlah ribuan di perusahaannya - sebesar itu? Sementara di negara lain, di Vietnam misalnya, upah buruh jauh lebih murah dibanding di Indonesia. Lalu, apa yang ada dibenak mereka para investor? Besar kemungkinan mereka akan hengkang dari Indonesia. Itu logis. Dan, apa yang terjadi jika semua investor itu memiliki pemikiran yang sama?

Jika menurut apa yang aku baca di berita harian pagi beberapa waktu lalu, banyak dari buruh itu yang kehilangan pekerjaannya dikarenakan mereka menuntut kenaikan upah yang tidak wajar, yang melebihi upah yang seharusnya. Aku tidak tahu, ini jalan yang terbaik atau bukan, tapi yang jelas untuk sementara 'ya'. Karena, kenaikan UMK tidak seharusnya terjadi setiap tahun.

Walikota Surabaya, Ibu Tri Rismaharini, berpendapat bahwa kenaikan UMK dapat dihindari dengan mengurangi waktu operasional kerja. Artinya, para buruh tidak harus bekerja 48 jam per minggu. Dengan demikian, kenaikan UMK bisa ditekan.

Tapi, memang, selalu ada yang harus dikorbankan ketika seseorang memilih untuk mempertahankan sesuatu yang lebih penting. Hanya akal sehat yang mampu menerima sebuah perubahan.

Powered by Telkomsel BlackBerry®
Share:

Senin, 04 November 2013

Resolusi

Awal November. Saatnya untuk menyusun resolusi.

Ah ya, haha. Resolusi. Aku masih ingat bagaimana pentingnya arti resolusi bagiku, saat aku masih berada di bangku kuliah. Hanya menyusun sebuah daftar resolusi membutuhkan waktu sekitar 2 hari. Sungguh tidak penting, bukan?

Tapi, memang, aku selalu memiliki impian yang sungguh kuat untuk bisa kuraih di waktu dan masa yang tepat. Tidak dulu, tidak sekarang.

Resolusi bagiku sama halnya seperti tujuan hidup yang terpendek dari yang terpanjang (istilah yang aku pinjam dari pacar, hihi). Karena, daftar resolusi setiap tahun hampir pasti akan berubah.

Satu contoh, ketika seseorang memasukkan "menikah" dalam daftar resolusinya, maka dia takkan memasukkan resolusi yang sama di tahun berikutnya. Sebaliknya, dia akan memasukkan resolusi lain yang akan diraihnya, memiliki rumah baru mungkin? Why not? Itu resolusi. Apa yang ingin kau raih dan kau merasa harus bisa mencapainya, jika memungkinkan, tergantung usaha dan kerja keras masing-masing orang.

Resolusiku? Banyak, dan aku masih menyusunnya satu demi satu. "Bisa hidup mandiri" adalah salah satunya, yang berada di urutan hampir diatas. Dan "Menikah" adalah daftar satu tingkat di bawahnya, dalam hitam diatas putih milikku.

Dan, mungkin daftar panjang resolusiku, akan berlaku tidak hanya untuk satu tahun ke depan. Jadi, aku akan tetap menyimpannya.

Kalian? Punya daftar resolusi juga kan?

Powered by Telkomsel BlackBerry®
Share:

Minggu, 03 November 2013

Keputusan Bukanlah Tujuan Akhir

Terkadang kau harus mengambil sebuah keputusan ketika kau sedang tidak ingin memilih. Setidaknya belum. Atau, memang haruskah keputusan itu selalu diposisikan sebagai sesuatu yang "harus"??

Tak ada pilihan yang benar-benar mudah, dan..

Aku benci memilih..

Bagiku, tak ada pilihan yang benar-benar mudah. Dan, hanya ada satu pertanyaan di benakku : "Kenapa harus memilih?"

Dan, apapun itu, keputusan bukanlah sebuah tujuan akhir. Tujuan akhir adalah saat dimana kau bisa menikmati hasil dari buah keputusan yang kau ambil.

Powered by Telkomsel BlackBerry®
Share: