Trip and Traveling

Kalo bicara soal perjalanan atau istilah kerennya traveling, aku selalu terpikirkan ke sebuah tempat eksotis yang notabene-nya belum pernah terjamah tangan-tangan manusia. Tak harus juga melancong pergi jauh ke negeri orang, jika di negeri sendiri banyak tempat-tempat yang bisa dijadikan sebagai tujuan wisata.

Tapi, untuk sementara ini, yang terpikirkan di otakku hanyalah satu tujuan destinasi : Bali. Satu tujuan yang selalu menari-nari di benakku sejak aku mengenalnya beberapa bulan lalu. Aku ingin menemuinya, dan menikmati keindahan kota tempatnya tinggal. 

Mungkin benar apa kata orang jika seseorang yang bekerja bisa dipastikan dan hampir pasti membutuhkan beberapa tujuan wisata atau berlibur untuk menyegarkan pikiran dan membuang penat agar otak kembali dapat beroperasi dengan sebagaimana mestinya.

***

Denpasar, Bali, 31 Maret 2014...

Sudah lama sekali aku tak mengunjungi pulau ini sejak terakhir kali aku kemari dalam rangka karyawisata SMA sekitar tahun 2002 lalu. Tak banyak yang kuingat ketika aku meninggalkannya dengan tidak membawa kenangan apapun, selain roll film kamera sakuku yang habis sama sekali kala itu, padahal banyak momen indah yang belum terpotret. Menyesal, sih, tapi dalam hati aku berharap kelak aku mendapat kekasih yang tinggal di pulau ini dan bisa tinggal disini, menjadi milik berdua, tak hanya sekedar membidik sebuah panorama.

Dan, Tuhan memang MahaMendengar. Seperti mimpi, aku benar-benar berada disini, di Bali, bersama dengan kekasih hatiku yang sangat aku sayang dan cintai. Mengukir kebersamaan berdua dan berbincang-bincang menatap matanya. Seakan masih belum percaya, aku mencubit lenganku sendiri. Dan, aku nyata!
Kebun Raya, Bali

Cuaca pulau Bali mungkin memang panas, dan kupikir memang lebih panas dibandingkan dengan di Surabaya yang panasnya pernah mencapai 40 derajad Celcius sekalipun. Tapi, aku tak menghiraukannya. Kulitku seperti kulit kebanyakan turis, yang bisa kembali ke warna semula ketika terkena panas. Dan, aku memang tak merasakannya. Yang kurasakan hanyalah sejuknya hatiku kala berdekatan dengannya.

Tanggal 31 Maret adalah saatnya masyarakat Hindu di Bali merayakan Nyepi. Baru kali ini aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri perayaan Nyepi di Bali secara langsung, yang biasanya aku hanya melihatnya dari layar kaca atau hanya membaca di media cetak. Hanya saja, aku tak sempat mengabadikan momen apapun perihal perayaan Nyepi ini karena memang momennya tidak tepat. Selain upacara adat yang dikenal keramat, banyaknya ogoh-ogoh yang sedikit membuatku merinding, juga kemacetan lalu lintas yang tidak memungkinkan aku untuk membidik salah satu scene-nya. Tapi, toh, aku tidak mempermasalahkannya. Tujuanku ke kota ini adalah untuk dia, bukan untuk mengejar obyek foto.

Bali memang indah. Dan, bersamamu, adalah yang utama dari semua rangkaian perjalananku. Aku tak mempedulikan apapun, termasuk jatah cuti kantor yang kuhabiskan selama satu minggu lebih. Mungkin aku tak ingin kembali ke habitatku sendiri, tapi aku harus, sambil dalam hati terus berharap aku akan bisa kemari lagi dengan satu bentuk cerita yang lain.

:: Saat Nyepi, Bali seperti kota mati, gelap dan sepi - Denpasar, 31 Maret 2014 ::

Komentar

  1. Very inspiring post :)

    xoxo
    http://singingthumbelina.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Many thanks, Meilina... :)
      Success for you, nice to meet you...

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer