Sabtu, 19 April 2014

An Emotion Restraint

Jika aku bertanya pada siapapun perihal apa yang kurasakan dan apa yang aku lalui hingga detik ini, mereka pasti akan mengira aku orang gila atau yang semacamnya. Tapi, inilah aku. Aku mungkin selalu mencari 'Pangeran Impian'-ku sendiri, tapi aku tak pernah menemukan yang benar-benar kuinginkan. Hingga akhirnya aku menemukannya. Dia yang kukenal sekitar lima bulan lalu dan aku seperti sudah mengenalnya sejak lama. G yang selalu bisa menghapus dukaku, memberikanku semangat, menghujaniku dengan kata-kata cinta, tak alpa mengirimkanku sebuah 'mood booster' di kala pagi menjelang, dan senyuman yang selalu kurindukan.

Namun, aku memang harus bersabar dengan semua kemungkinan yang mungkin akan muncul. Aku tahu. Dan, selalu ada hikmah dibalik peristiwa. Meski kesabaranku sudah teruji kala tak lelah menunggunya dibarengi dengan rentetan peristiwa memilukan, menyayat hati, dan mengoyak perasaan, toh aku tetap bisa berdiri dengan kedua kakiku dengan mempertahankan sebentuk cinta yang masih utuh dan selalu senantiasa terjaga tanpa ada retak sedikit pun. Cinta yang selalu ada dan abadi untukmu, G. Cinta yang tak lekang oleh waktu.

Aku tak akan mengingkari apa yang ada. Takkan mengingkari asal-usulku. Hanya saja, di dunia ini tak semua orang menyukai kita. Percayalah, pasti ada orang yang merasa bahwa kita tak pantas mendapatkan yang terbaik, atau yang senada dengan pernyataan itu. Karenanya, diperlukan sebuah porsi kesabaran yang di luar kata 'biasa'. "Terkadang, sebuah komunitas itu bisa sangat kejam dan jahat," seperti itulah kira-kira.

Anggaplah melatih kesabaran itu layaknya terapi jantung. Jadi, semakin hari kau menjalani terapi itu lambat-laun kau akan terlatih, namun kau tetap menjadi dirimu sendiri tanpa mengubah apapun. Jika sebuah terapi kesehatan yang dilakukan pada pasien penderita penyakit tertentu akan membuat pasien itu menjadi lebih baik dan tak lagi merasakan sakit, maka terapi kesabaran seperti yang aku bicarakan diatas akan menjadikan kita sebagai sosok yang lebih baik dan lebih bisa mengendalikan emosi.
Share:

Jumat, 18 April 2014

Airmata Yang Terbayarkan

Tak ada yang lebih membahagiakan selain menggantikan airmata dengan senyuman. Bukan nilai airmata yang menjadi sorotanku, tapi 'perjalanan' airmata itu sendiri sehingga bisa menjadi airmata kebahagiaan atau 'airmata yang terbayarkan'.

Kusebut sebagai sebuah 'perjalanan' karena memang tak mudah aku melalui semuanya, jika tak ada yang menguatkanku. Cinta dan Tuhan.

Ya, dua kata itu seolah seperti sihir yang mampu membuatku tegar dan kokoh dalam terpaan badai. Aku mungkin keras kepala dan terlihat 'baik-baik' saja diluar, meski dalam hati aku merasakan sakit luar biasa. Sakit tak tertahankan karena perasaan cinta terdalam yang terluka oleh sayatan pisau mahatajam. Entah bagaimana aku bisa survive, karena yang terlintas kala itu hanyalah satu : mati.

Jika bukan karena cinta yang seolah seperti sudah mendarah-daging, dan karena aku manusia yang masih ber-Tuhan, tulisan ini mungkin takkan tersurat dengan kesepuluh jariku hari ini. Dan, aku mungkin takkan lagi menghirup udara serta menginjakkan kakiku lagi di muka bumi ini. Tapi, tidak. Cinta yang bersemayam di hatiku lebih kuat dari itu semua. Cinta yang membuatku bertahan, meski sebelah kakiku seolah tak lagi menapak tanah.

Dan, seolah terbangun dari rentetan panjang mimpi buruk dan black-hole yang siap menelanku hidup-hidup, aku merasakan tubuhku begitu ringan dan tak ada lagi beban yang kurasakan. 'Sihir' itu benar-benar bekerja. Aku masih hidup.

Airmata yang kuteteskan bukan tidak memiliki makna. Nyatanya, airmata kesedihan itu menjelma menjadi airmata kebahagiaan yang benar-benar memiliki makna yang berbeda. Menyapukan keseluruhan duka dalam palung hati dan membersihkan sukma, menjadikanku sosok yang nyaris sempurna. Aku menyebutnya sebagai 'Keajaiban Cinta'.

"G, kau adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan atas setiap doa yang kupanjatkan. Kau adalah 'hadiah' yang diberikan Tuhan atas permohonan dalam setiap tetes airmataku. Terima kasih, Tuhan."
Share: