An Emotion Restraint

Jika aku bertanya pada siapapun perihal apa yang kurasakan dan apa yang aku lalui hingga detik ini, mereka pasti akan mengira aku orang gila atau yang semacamnya. Tapi, inilah aku. Aku mungkin selalu mencari 'Pangeran Impian'-ku sendiri, tapi aku tak pernah menemukan yang benar-benar kuinginkan. Hingga akhirnya aku menemukannya. Dia yang kukenal sekitar lima bulan lalu dan aku seperti sudah mengenalnya sejak lama. G yang selalu bisa menghapus dukaku, memberikanku semangat, menghujaniku dengan kata-kata cinta, tak alpa mengirimkanku sebuah 'mood booster' di kala pagi menjelang, dan senyuman yang selalu kurindukan.

Namun, aku memang harus bersabar dengan semua kemungkinan yang mungkin akan muncul. Aku tahu. Dan, selalu ada hikmah dibalik peristiwa. Meski kesabaranku sudah teruji kala tak lelah menunggunya dibarengi dengan rentetan peristiwa memilukan, menyayat hati, dan mengoyak perasaan, toh aku tetap bisa berdiri dengan kedua kakiku dengan mempertahankan sebentuk cinta yang masih utuh dan selalu senantiasa terjaga tanpa ada retak sedikit pun. Cinta yang selalu ada dan abadi untukmu, G. Cinta yang tak lekang oleh waktu.

Aku tak akan mengingkari apa yang ada. Takkan mengingkari asal-usulku. Hanya saja, di dunia ini tak semua orang menyukai kita. Percayalah, pasti ada orang yang merasa bahwa kita tak pantas mendapatkan yang terbaik, atau yang senada dengan pernyataan itu. Karenanya, diperlukan sebuah porsi kesabaran yang di luar kata 'biasa'. "Terkadang, sebuah komunitas itu bisa sangat kejam dan jahat," seperti itulah kira-kira.

Anggaplah melatih kesabaran itu layaknya terapi jantung. Jadi, semakin hari kau menjalani terapi itu lambat-laun kau akan terlatih, namun kau tetap menjadi dirimu sendiri tanpa mengubah apapun. Jika sebuah terapi kesehatan yang dilakukan pada pasien penderita penyakit tertentu akan membuat pasien itu menjadi lebih baik dan tak lagi merasakan sakit, maka terapi kesabaran seperti yang aku bicarakan diatas akan menjadikan kita sebagai sosok yang lebih baik dan lebih bisa mengendalikan emosi.

Komentar

Postingan Populer