Senin, 23 Juni 2014

Diskriminasi

Apa itu diskriminasi? Jika dibahas rasanya agak janggal. Dalam pikiranku, atau mungkin juga semua orang yang menentang diskriminasi, mungkin berkata, "Hari gini masih ada diskriminasi? Tahun berapa nih?" Seperti hidup di jaman dimana kesemuanya masih dibawah otoritas tertentu. Tapi, mungkin memang benar begitu atau sistem itu sudah berubah seiring dengan silih bergantinya pemerintahan? Entahlah. Namun, yang pasti diskriminasi itu jelas masih merajalela hingga saat ini.

Diskriminasi memang bisa dilihat dari banyak bentuk, dan tergantung dari jenis diskriminasi apa dan di lingkungan yang bagaimana. Jelas, orang per orang yang menjadi korban diskriminasi atau mereka yang diperlakukan secara berbeda dari orang lainnya akan merasa tidak nyaman. Orang-orang seperti ini cenderung murung dan menyendiri. Mereka akan selalu merasa tidak percaya diri dan pada akhirnya akan menurunkan produktivitas sumber dayanya. Terutama, jika orang-orang ini adalah masyarakat yang tergolong dalam usia produktivitas aktif, yakni mereka yang berada dalam rentang usia 20 hingga 35 tahun.

Padahal Undang-Undang negara yang mengatur soal penghapusan diskriminasi sudah jelas-jelas diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis. Tapi, kok ya masih ada saja di berbagai tempat-tempat di wilayah negeri ini yang masih mengagungkan diskriminasi seperti ini. Atau, mungkinkah sebagian dari mereka tidak paham tentang hak asasi manusia? Karena, hal ini pun sedikit banyak berkaitan dengan hak asasi manusia.

Cukup merisaukan sebenarnya. Tapi toh, banyak dari mereka tidak memahamiya. Banyak pula dijumpai pemberlakuan diskriminasi yang berakibat buruk pada jiwa dan psikologis pada korban diskriminasi. Hingga pada akhirnya banyak pula dijumpai dari mereka para korban mencetuskan kalimat berbahaya, "Jadi, kalo aku mati, nggak ada yang peduli juga?" 

Seharusnya, jika mereka sadar akan hukum dan sisi psikologis manusia, diskriminasi tak perlu terjadi. Toh, untuk apa? Tidak ada manfaatnya. Yang ada hanyalah kerugian - rugi fisik, rugi pikiran, dan rugi tenaga, yang seharusnya ketiganya bisa digunkan untuk memikirkan hal lain.

Jadi, masih perlukah diskriminasi dipertahankan??
Share:

Rabu, 18 Juni 2014

Antara Iseng dan Sadar

Rasanya lama aku tidak update blog ini. Kesibukanku rupanya sudah cukup menyita waktu. Padahal baru sekitar bulan Mei kemarin aku terakhir menulis. Tulisan hari ini pun kubuat saat mataku sudah setengah tertutup kantuk, setelah sebelumnya aku iseng mengganti template blog ini. Sekedar ganti suasana, kupikir.

Banyak yang terjadi sepanjang dua bulan belakangan ini, baik itu yang menyangkut diriku sendiri ataupun orang lain. Kurasakan semuanya begitu kompleks. Mulai dari yang sedih, bahagia, was-was, berdebar-debar, hingga terharu. Aku mungkin tak bisa menceritakannya satu per satu, selain karena keterbatasan waktu juga mataku yang sudah tidak kuat untuk 'bekerja' lagi.

Singkat kata, kini aku bahagia. Ya, dan hal itu selalu kuamini setiap saat. Berawal dari sebuah iseng, kemudian berlanjut ke sebuah hubungan yang lebih serius. Tak henti-hentinya aku mengucap syukur. Tuhan tidak akan mengabulkan permohonan manusia, apabila manusia itu tidak mau berusaha demi mencapai keinginannya. Dan, ungkapan itu memang benar adanya. Aku telah membuktikannya. Kebahagiaan ini aku anggap sebagai 'hadiah' atas usaha yang aku perjuangkan demi menggapai impianku.

Apapun yang aku rasakan sedih dan berkeluh kesah selama ini kuanggap sudah terbayar lunas, dan bahkan melebihi dari ekspektasi yang aku harapkan.

Mungkin aku memang sedih. Banyaknya masalah yang harus aku hadapi di kantor takkan menyurutkan sesuatu yang masih tersimpan dalam hatiku.

Tak jauh berbeda dengan apa yang aku tulis diatas, bahwasanya manusia hanya bisa memanjatkan doa dan berharap. Sesederhana itu. Usaha dan doa tak pernah terpisahkan, seakan mereka adalah satu 'paket'. Tak pernah berdiri sendiri dan tak pernah terlihat 'sendiri', keduanya harus selalu ada dalam hidup kita dan menjadi dasar sebuah keyakinan.
Share: