Kamis, 24 Juli 2014

Flashback Sebelum Memaafkan

Bergabung di sebuah komunitas itu sebenarnya bukan tipeku. Aku memang suka menulis dan membuat sebuah karya tulis. Tapi, aku kurang suka jika aku harus bergabung dengan komunitas penulis atau yang semacamnya. Itu mungkin ya sebabnya aku gagal mewujudkan impianku menjadi penulis menjadi kenyataan, hehe, oke lupakan! Aku lebih suka mempublikasikan karyaku dengan caraku sendiri. Seperti, yang pernah ada (sampai sekarang juga mungkin masih ada) sebuah situs dimana kita sebagai penulis bisa menerbitkan tulisan kita sendiri menjadi sebuah buku atau novel, layaknya penulis terkenal. Hanya saja, hingga saat ini aku belum sempat mencobanya, karena memang aku sudah jarang sekali menulis. Bukan karena malas, tapi aku tak punya cukup banyak waktu. Kecuali, jika ada jatah liburan panjang. 

Baiklah, kembali ke pembicaraan komunitas. Menurutku, sebuah komunitas bisa sangat menguntungkan dan bisa juga merugikan. Oke, semua hal memang ada plus-minusnya, aku percaya itu. Dan, semua hal juga pastilah ada untung-ruginya. Begitu pula lah yang terjadi padaku.

Aku mengaku bahwa aku memang beruntung bisa bergabung di sebuah komunitas (yang takkan kusebutkan namanya dan cukup hanya aku yang tahu). Aku pun berhutang banyak ilmu disana. Kemampuan menulisku memang tak pernah surut, namun aku merasa bahwa ilmu tentang dunis tulis-menulis itu sendiri yang bertambah.

Hanya saja, sebuah komunitas harus selalu bertemu dengan banyak kelompok orang per orang. Dan, mereka memiliki karakter dan perilaku yang berbeda-beda. Sifat dasar manusia adalah masyarakat yang majemuk. Karenanya, sudah sepantasnya jika kita harus bisa menerima segala perbedaan yang ada.

Aku tahu dan aku sadar itu semua. Hanya, terkadang aku merasa risih dan seolah merasa terganggu dengan apa yang ada di sekitarku. Aku merasa bahwa privasiku seakan terusik. Pada kenyataannya, aku tak pernah mengusik privasi siapapun. But, why? Yang ada justru malah aku yang tersudut dan sempat kehilangan milikku yang paling berharga.

Tapi, sudahlah. Itu adalah masa lalu. Aku hanya sedikit flashback. Sebelum hari yang fitri menjelang, aku ingin melupakan semuanya setelah sebelumnya aku memaafkan semuanya. Jadi, setelah aku menguburnya dalam-dalam aku tak perlu lagi mengingatnya. Aku hanya perlu belajar dari semuanya.
Share:

2 komentar:

  1. Hmmm.... resiko gabung dikomunitas memang gitu si ya >.< siapin mental ajalah ^^

    BalasHapus