Senin, 10 November 2014

Pahlawan-pahlawan Masa Kini

Bulan November mungkin identik dengan Hari Pahlawan. Yes, correct, tapi bukan itu poin pentingnya. Melainkan, jiwa kepahlawanan itu sendiri. Sudahkah kita memilikinya? Tiap orang kujamin pasti ingin menjawab 'sudah', tapi dalam kenyataannya nol sama sekali. Padahal, seorang pahlawan tidak mengenal kata menyerah dan tak ada kata putus asa dalam kamus hidupnya. Jadi, artinya, kalau kita masih terus saja mengeluh, menyerah, pasrah pada nasib, dan malas melakukan sesuatu yang sebenarnya bisa dilakukan dengan cepat tanpa menunda waktu, kita bukanlah seorang pahlawan. Setidaknya, belum bisa dikatakan sebagai seorang pahlawan.

Tiap-tiap manusia seharusnya bisa belajar dari manusia lainnya untuk mendapatkan sebuah pembelajaran baru. Pembelajaran sejenis ini tidak membutuhkan guru layaknya saat kita berada di bangku sekolah atau yang semacamnya. Ini merupakan pembelajaran dari mulut ke mulut yang kita dapatkan saat kita melihat orang lain bisa melakukan hal yang 'lebih' dibandingkan kita. Maka, dari sinilah yang nanti pada akhirnya akan mendatangkan sebuah ilmu baru dan kemandirian.

Hari ini selagi masih dalam rangka memperingati Hari Pahlawan, yuk kita pupuk jiwa kepahlawanan kita! Indonesia memang bukan negara maju, pun bukan negara terpuruk. Negara kita berada di antaranya. Kalau diibaratkan makanan antara enak dan nggak enak, kita pasti bilangnya 'lumayan', haha, ini gak penting dan cuma pengandaian aja. Maka, kita sebagai bangsa yang memiliki nasionalisme tinggi harus dapat mengembangkan jiwa kreatifitas kita untuk membuat bangsa ini lebih dari sekedar predikat 'lumayan'.

Ini tahun 2014, dan kita adalah pahlawan-pahlawan dan pejuang di tahun 2014, atau bahasa kerennya adalah pahlawan masa kini. Tanpa kita, bangsa ini bukanlah apa-apa, dan tanpa kita pula, bangsa ini tidak akan besar dan mempertahankan presisinya sebagai negara berkembang.

"Selamat Hari Pahlawan 10 November 2014 untuk semuanya!! Jangan pernah menyerah untuk apapun yaa!!" :)
Share:

Kamis, 06 November 2014

Fenomena Lulusan Sarjana

Beberapa waktu lalu harian pagi Jawa Pos mengulas tentang banyaknya pengangguran di Surabaya bertitel Sarjana. Oh God! Sembari membaca fenomena itu lantas kepalaku dipenuhi beribu macam pertanyaan yang aku sendiri tak mampu menjawabnya. Tapi, dari sekian banyak pertanyaanku, ujung-ujungnya pasti berbunyi, 'bagaimana bisa'? 

Sekarang kalian tahu, tak ada yang tak mungkin di dunia ini. Semuanya akan menjadi mungkin jika memang itu dimungkinkan. Artinya, fenomena pengangguran bertitel Sarjana itu bisa terjadi karena mereka para lulusan tersebut tidak memiliki mind-set yang benar.

Mencari pekerjaan mungkin memang melelahkan (ya aku tahu, aku pun juga pernah merasakan kelelahan yang paling lelah sekali pun, lelah tingkat dewa katanya, #ahlebay, haha!!), tapi mencari pekerjaan pun juga tidak bisa instan. Dalam artian, instan yang bisa langsung ditempatkan di posisi tinggi dengan salary yang 'wah'. Oh Man, memangnya itu perusahaan nenek moyangmu, gitu? So, this is a BIG NO! Bukan kandidat seperti itu yang diinginkan perusahaan. Melainkan kandidat yang bisa menerima statusnya sebagai newbie dan bersedia ditempatkan di posisi apapun sesuai dengan karakteristiknya dengan salary yang masih dalam batas wajar. 

Namun, fenomena ini juga ada sangkutpautnya dengan jumlah lapangan kerja yang tersedia di kota besar semacam Surabaya. Kebutuhan akan tenaga kerja memang banyak, tapi tenaga kerja yang bagaimana yang sedang mereka butuhkan itu yang membuat lapangan kerja seolah terasa sedikit dan terbatas.

Pola pikir atau mind-set seperti ini yang memang seharusnya diubah. Masyarakat kebanyakan berpikir bahwa bekerja kantoran itu enak, hidup terjamin, kesehatan ditanggung perusahaan, dan lain-lain-dan lain-lain. Padahal, tak selamanya bekerja purna-waktu seperti itu menjanjikan kehidupan yang lebih baik. Memang, dalam segi salary terjamin dan selalu statis di tiap bulannya, dibandingkan jika berwirausaha yang kadang naik-turun. Tapi, justru dengan berwirausaha itulah kita bisa belajar melatih kedisiplinan diri dan tanggungjawab atas pekerjaan yang kita lakukan sendiri. Kita akan merasa tertantang dengan pesaing-pesaing bisnis yang mungkin muncul. Dan, jika kita sukses menjalankan bisnis kita sendiri, untung yang didapat bahkan akan jauh melebihi kalau kita hanya bekerja purna-waktu. And, this is the point! 

Fenomena bertambahnya jumlah pengangguran di Surabaya bertitel Sarjana bisa berkurang apabila mereka mampu mengubah mind-set mereka bahwa bekerja berwirausaha akan jauh lebih baik daripada bekerja purna-waktu yang bekerja selalu terikat waktu dengan gaji pas-pasan. 

Miris juga saat membaca berita seperti itu. Kalian tahu? Tak mudah meraih gelar Sarjana dan mereka harus mengorbankan segala apapun (mungkin) hanya untuk mendapatkan selembar kertas bersegel bertuliskan titel gelar yang tersemat di belakang nama mereka. Apa yang ada di benakmu ketika seremonial itu berakhir, dan kau mendapati dirimu hanya duduk berdiam diri di rumah tanpa kegiatan? Tidak bekerja dan tidak pula memulai usaha apapun? Sungguh menyedihkan, bukan? Padahal, sebenarnya banyak sekali yang bisa kau lakukan dengan kemampuan, kepandaian, dan pendidikan yang telah kau dapatkan selama di perkuliahan untuk menjadi orang sukses tanpa harus sibuk melamar pekerjaan kesana-kemari. And, this is a second point!

"Lagi, kutekankan, waktu takkan berkompromi denganmu kalau kau tidak berusaha menjadikannya sahabatmu. Tetap semangat!!" :)
Share:

Senin, 03 November 2014

Heroes at Ourself

Yah, this is November! Siapa yang sangka waktu begitu cepat berlalu? Kalau menurutku, waktu seolah melesat bak pesawat jet, whuusshh!! Tidak peduli apapun yang (mungkin) menghalanginya. Eh, apa yang menghalanginya? Siapa yang ingin menghalangi laju sang waktu? Tentu saja, kita!

Sadarkah kita bahwa selama ini kita 'berperang' dengan waktu? Menanggalkan semua keegoisan kita demi mengejar sesuatu lantaran waktu yang memaksa kita untuk melakukannya? Kukatakan itu salah satu bentuk keegoisan, karena memang tiap-tiap individu memang memiliki sifat-sifat egoisme--hanya saja mungkin porsinya untuk tiap individu berbeda-beda tergantung dari pola hidup yang mereka jalani--sehingga, ketika mereka berkutat dengan waktu dan mengejar impian (katakanlah seperti itu), maka mereka akan menghentikan sementara aktivitas tertentu yang sedang ia lakukan demi meraih impian tersebut, karena ia sadar waktu takkan pernah kembali dan kesempatan emas takkan pula menghampirinya kali kedua. 

Dan, inilah sebuah titik dimana porsi kepahlawanan dalam diri kita diperlihatkan. Dalam arti harfiah, pahlawan tidak melulu diartikan sebagai seseorang pemberani yang mati dalam medan perang. This is a big FALSE! 

Setiap manusia diciptakan dengan komposisi yang nyaris sama, baik dari segi jasmani maupun rohani. Dan, sifat kepahlawanan atau keberanian dalam diri manusia sudah ter-install dengan sempurna sejak kita menginjakkan kaki di dunia ini. Jadi, sungguh tidak dibenarkan jika kita berucap, 'Ini jaman udah merdeka, ngapain sih masih harus perang'? Iya, jaman memang sudah merdeka, tapi ada satu musuh yang masih harus kau perangi : waktu. Dan, sampai kapan pun waktu akan selalu menjadi musuh kita, apabila kita tidak pandai mengelolanya. 

Itulah kenapa aku bilang bahwa ada jiwa kepahlawanan dalam diri kita masing-masing. Karena Tuhan juga menciptakan waktu untuk kita perangi dan menjadikannya musuh kita. See? Kalau kau tidak pandai memanfaatkan jiwa kepahlawananmu untuk memerangi waktu, maka waktu yang akan menaklukkanmu. Rela diperbudak waktu? Jika tidak, maka jadilah pahlawan bagi dirimu sendiri!

Happy November to all of you!! :)
Share: