Jumat, 11 September 2015

Ketika Akhir Bukanlah Sebuah Tujuan

Terkadang, seseorang kerap melupakan tujuan awal mereka melakukan suatu hal. Sebagai contoh saja orang berbelanja di supermarket. Di rumah sebelum berangkat pastinya kita sudah mempersiapkan sebuah daftar belanjaan, apa-apa saja yang kira-kira harus dibeli agar nanti tidak kalap ketika sudah mulai berbelanja. Namun, apa yang terjadi pada kebanyakan orang-orang? Mereka kalap, dan lupa dengan tujuan awal mereka ke supermarket tersebut. Dan parahnya, barang yang terpenting yang seharusnya dibeli malah tidak terbeli. Itulah sebuah fenomena kecil kehidupan di masyarakat. Benarkah demikian? (Kalau iya, berarti aku udah cocok jadi paranormal, haha!)

Sama halnya dengan manusia dan kehidupannya. Manusia diciptakan Tuhan agar mereka menghirup udara di Bumi untuk menggapai semua impian dan tujuannya. Karenanya, itulah sebabnya mengapa ada yang dinamakan dengan 'masa depan'. Masa depan adalah bagian dari sebuah tujuan yang harus diraih oleh manusia. Kau boleh saja bermimpi dan berangan-angan, namun kau harus paham batasan dari mimpi dan angan-angan milikmu. Jangan sampai pada akhirnya kita yang diperbudak oleh mimpi dan angan-angan kita sendiri. 

Lantas, dari jabaran yang aku tulis diatas, apa pendapatmu jika seseorang tidak memiliki sebuah tujuan ketika ia melakukan sesuatu? Wasting time? Atau, mereka bahkan merasa masa bodoh dengan tujuan? "Ah, persetan dengan tujuan. Aku toh bahagia dengan apa yang kulakukan." Begitukah yang sering mereka utarakan ketika tujuan bukanlah suatu akhir? Lalu, untuk apa? Apa untungnya? Apa yang kau dapat dari semua itu? Sadarkah kau bahwa kau telah menggadaikan harga dirimu? Lalu, jika telah tergadai, dengan cara apa kau akan menebusnya? Sungguh suatu hal yang sangat sia-sia.

Manusia memiliki akal dan pikiran yang sehat. Pun, manusia diciptakan menjadi makhluk paling sempurna dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya. Lalu, mengapa kita tidak memanfaatkan kesempurnaan ini dengan melakukan suatu hal yang sekiranya tidak merugikan diri kita sendiri? Kita hidup hanya sekali, dan mati pun sekali. Hidup pun seharusnya bisa kita nikmati. Tapi, menikmati hidup tidaklah sama dengan menantang bahaya dan merugikan diri sendiri. Menikmati hidup juga tidak sama dengan melukai diri sendiri dengan mengatasnamakan cinta. Cinta itu anugerah, Kawan. Jangan pernah membawa-bawa cinta jika kau tak tahu apa maknanya. Dan, jangan pernah pula menjadikan cinta sebagai tameng alasan ketika kau menempatkannya di ruang dan waktu yang salah. Manusia-lah yang seharusnya bertanggungjawab dan menggunakan kelebihannya untuk tidak membuat harga diri cinta terlacurkan atas kesalahan yang dilakukan.

"Think wisely before you do wrong, Guys. Life is too beautiful to get damn."
Share:

2 komentar:

  1. menurut saya tujuan bersifat opsional, ada beberapa pilihan yang dijadikan tujuan, usaha yang dilakukan pun berbarengan untuk mencapai tujuan-tujuan itu. Bagus kalau kita bisa fokus meskipun tujuannya banyak, yang disayangkan mereka berleha-leha (santai2) untuk tujuan itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener banget, kadang lupa kalo kita hidup pastinya punya tujuan.
      Thanks for comment :)

      Hapus