Bilakah Waktu Kugenggam

Sekali lagi..., sekali lagi aku mencoba berdamai dengan waktu. Meski aku tak ingin, tapi aku tak punya pilihan lain. Ribuan kali aku mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa aku hanyalah manusia biasa yang tak memiliki kuasa apapun. Manusia hanyalah makhluk kecil, tak lebih besar dari seukuran semut di hadapan Tuhan.

Namun demikian, tak bolehkah jika aku memiliki mimpi, keinginan, dan harapan?--meski aku telah lelah bermimpi, lelah berharap, dan keinginan-keinginanku nyaris sirna ditelan kabut airmata. Dan, sekali lagi, aku hanyalah manusia biasa. Aku masih memiliki kesempatan untuk membangun kembali mimpi-mimpiku, dan meraih asa yang nyaris kulepaskan.

Meski dadaku sesak dan aku hampir-hampir tak bisa menahan bulir-bulir airmataku jatuh membasahi pipi, aku akan tetap menunggu. Tak pernah ada kata paksaan dalam arti menunggu. Cinta ini pun bukan paksaan. Semuanya murni dari lubuk hatiku yang terdalam. Dan, perasaan ini tak terhapuskan, hingga Tuhan mengambil senyumku, tangisku, resahku, hingga raga yang menghidupkan aku. Semuanya.

Bilakah waktu kugenggam, dan bilakah asa kuraih?
Bilakah waktu kugenggam, dan bilakah cinta kumiliki seutuhnya?

Aku tak pernah menghujat waktu. Aku hanya ingin menanyakan satu pertanyaan, "Mengapa waktu tak pernah bisa berdamai denganku?"

Komentar

  1. sungguh mengharukan gan....
    bagaimana pun kita hanya manusia biasa gan...
    yang di Atas lah yang menentukan semuanya.....

    BalasHapus
  2. semog waktunya bisa berdamai ya nanti, mba dhanis

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer