Jumat, 08 Juli 2016

Back to Nature

Sebuah perayaan hari besar atau yang sering orang bilang dengan hari raya merupakan sesuatu yang sakral dan lekat sekali dengan kehidupan manusia. Tak dapat dipungkiri suka atau tidak, sebuah perayaan itu memang akan selalu dilakukan dan tak pernah alpa untuk segala sesuatunya. 

Sama halnya seperti perayaan hari raya Lebaran yang begitu kental dengan tradisi masyarakat Indonesia. Tradisi pulang ke kampung halaman yang tak pernah terlupa senantiasa menghiasi meriahnya perayaan ini. Alhasil--kau tahu--kau akan bisa menghitung berapa banyak kendaraan yang melintas di area jalanan ibukota yang biasanya selalu macet kini sungguh-sungguh lengang, sampai-sampai kau mungkin bisa menggunakan jalanan itu untuk bermain bola. Saking sepinya! 

Urbanisasi. Hal inilah yang menjadi satu-satunya alasan mengapa jalanan ibukota begitu sepi dan sangat jarang sekali ditemui kendaraan melintas seperti apa yang terjadi disaat hari-hari sibuk dimulai, seperti biasanya. 

Namun, memang seperti itulah yang dinamakan dengan pemerataan kependudukan. Masyarakat berpindah dari satu kota ke kota yang lain karena ingin mengadu nasib dan ingin mendapatkan kehidupan perekonomian yang layak. Karenanya, mereka melakukan perpindahan domisili--dengan tidak menghapus dari mana mereka berasal. 

Untuk alasan itulah, yang pada akhirnya kemudian dikenal dengan istilah pulang kampung--atau, back to nature. Mereka akan kembali ke daerah asalnya masing-masing untuk melepas rindu dengan keluarga yang telah mereka tinggalkan dalam waktu yang lumayan lama demi sebuah pekerjaan. Dan, momentum seperti inilah yang banyak ditunggu-tunggu oleh sebagian besar masyarakat muslim yang merayakan Lebaran. 

Menyenangkan. 
Karena inilah sebuah kebersamaan, yang tidak bisa digantikan dengan berapa pun pundi-pundi rupiah yang kita miliki... 
Share:

Rabu, 06 Juli 2016

Tradisi yang Tak Pernah Berubah

Indonesia adalah negeri yang unik--setidaknya begitu kata orang dari berbagai penjuru dunia. Indonesia memiliki beraneka ragam budaya yang tidak ditemui di belahan negeri mana pun. Beranekaragamnya budaya dan ras suku bangsa itulah yang menjadikan Indonesia sebagai negeri yang unik. Mungkin bagi sebagian orang hanya menganggap bahwa Indonesia hanya sebelah mata saja demi melihat semua keunikan itu--menganggap bahwa suatu negara memang memiliki keunikannya sendiri-sendiri. Namun, apa yang mereka pikirkan adalah salah besar. Ketika mereka mengatahui sisi unik negeri ini yang sesungguhnya, mereka mungkin akan segera menarik ucapannya saat itu juga.

Keunikan budaya-budaya itu tentu saja akan melahirkan banyak tradisi yang sangat kental. Semakin banyak suku bangsa yang dimiliki oleh sebuah negeri, maka akan semakin unik sebuah negeri itu dipandang. Mungkin memang tak semata-mata bahwa apa yang tampak diluar sudah pasti bagus di dalam, namun dari sekian banyak kekayaan alam yang dimiliki oleh Indonesia, siapapun yang melihatnya akan merasa takjub.

Tradisi yang tak pernah berubah dari tahun ke tahun, dari satu generasi ke generasi berikutnya adalah tradisi meletupkan petasan saat menjelang malam takbir pada malam Lebaran keesokan harinya. Saya terkadang heran, apa gunanya meletupkan petasan?--dan terlebih, apa hubungannya malam menjelang Lebaran dengan petasan? Itu yang jadi pertanyaan saya sejak dulu.

Petasan sesungguhnya digunakan pertamakali pada perayaan tahun baru China atau yang biasa dikenal dengan Imlek. Memang benar bahwasanya Islam dibawa pertamakali masuk ke Indonesia oleh pedagang yang bukan berasal dari Indonesia, namun bukan berarti bahwa tradisi-tradisi yang tidak berkaitan itu lantas dikait-kaitkan. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaan yang kemudian dijadikan sebagai tradisi turun-temurun yang melekat erat dan tidak bisa dihilangkan. Jika dibahasakan secara modern, ini dinamakan sebagai trademark.

Namun, mungkin sejak saat itulah petasan begitu melekat pada perayaan Lebaran yang merupakan hari raya kemenangan bagi umat Islam. Kemeriahan yang terpancar di berbagai belahan dunia yang juga merayakan Lebaran atau EID Mubarak ini pun semakin meriah karena senantiasa diiringi oleh letupan petasan dimana-mana. Dar! Der! Dor!

Apapun itu--baik diiringi suara letupan petasan atau tidak--akan selalu menghadirkan kerinduan di benak saya. Selalu mengingatkan saya akan kebesaran Tuhan semesta alam. Selalu menyadarkan saya bahwa saya masih diberikan kesempatan mendengarkan suara-suara itu meski saat ini saya tengah menderita sakit, dimana saya (sementara waktu ini) hanya bisa mendengar dengan sebelah telinga saya, karena sesuatu hal. Saya tetap bersyukur--apapun itu. 
Share:

Selasa, 05 Juli 2016

Saved!

Tak ada yang lebih melegakan ketika kau mendengar bahwa semua masalahmu terselesaikan tanpa merugikan pihak lain. Oke, setidaknya itulah yang terjadi. Setelah sebelumnya aku memiliki bermacam-macam pikiran buruk dan berbagai macam prasangka negatif, oh sudahlah, mungkin aku memang tergolong orang yang terlalu underestimate

Aku memang tak bisa membohongi diriku sendiri bahwa memang aku khawatir akan membawa dampak yang lebih besar lagi jika tidak segera ditangani--dan, kekhawatiran itu melebihi apapun yang membuatku takut setengah mati hingga nyaris membuat kakiku lemas tanpa daya dan seakan aku tak ingin bertemu siapa pun. 

Mungkin memang berlebihan ya, tapi apapun itu harus tetap aku hadapi. Melarikan diri hanya akan membuatku menjadi seorang pengecut, dan aku bukan orang seperti itu. Percayalah, setakut apapun aku, seberat apapun bebanku, aku bukan orang yang mudah menyerah--meski terkadang aku selalu membutuhkan dukungan dari orang-orang yang aku sayangi. 

Dan, setelah semua terselesaikan--kau tahu--rasanya aku ingin berguling-guling di lantai bak anak anjing yang bahagia ketika mendapati tuannya pulang ke rumah dengan membawa sekeranjang sosis mentah, hanya untuk ia makan seluruhnya. Aku terselamatkan! Haha, sudahlah, bagaimana mengungkapkan seonggok perasaan lega yang membuncah? Unpredictable!
Share:

Senin, 04 Juli 2016

Memaafkan adalah Absolut

Juni, tahun 2016. 

Puasa hanya tinggal menghitung hari. Karena hanya tinggal beberapa hari ke depan semua umat muslim akan merayakan hari raya--Lebaran. Menurut saya, sama halnya dengan perayaan Valentine atau hari kasih sayang lainnya yang dirayakan tiap tanggal tertentu. Lantas, jika saya bertanya, 'apakah pada waktu hari dan tanggal itu saja kau merasa sayang terhadap orang tersebut? sedangkan hari-hari sesudahnya kau hanya menganggapnya sebagai hiasan?', maka tentu jawabannya adalah 'tidak'. Karena, ya memang benar, kodrat hidup manusia adalah makhluk sosial. Maka, bagaimana pun juga, apapun yang dilakukan dengan sengaja atau tidak, akan menimbulkan rasa tidak enak hati dengan sesamanya. Disinilah peran memaafkan dalam artian memaafkan yang absolut diperlukan. 

Namun, bukan  hanya memaafkan yang sekedar memaafkan dengan berjabat tangan disertai senyuman (yang agak memaksa) lalu pergi dan berlalu begitu saja. Oleh karenanya, saya mengatakan maaf yang absolut, dimana model memaafkan yang seperti itulah yang diperlukan. Tulus dan ikhlas yang didasari oleh rasa demi kemanusiaan. 

Sekali lagi saya katakan bahwa tak mudah menjadi sosok manusia yang bisa benar-benar ikhlas dalam hal-hal tertentu. Dalam banyak penggambaran kata, ikhlas dikategorikan sebagai sesuatu yang sungguh sulit dilakukan melebihi soal logaritma yang paling rumit sekali pun. Ikhlas diibaratkan sebagai ujian akhir tatkala kau usai mengarungi hidupmu bertahun-tahun lamanya. Pun, memaafkan membutuhkan semua komponen itu. Jika kau belum bisa memenuhi salah satunya, maka ucapan maaf yang kau berikan bukan berasal dari hati. 

"Happy Eid Mubarak for all!" 
- Mohon Maaf Lahir dan Bathin - 
Share:

Mistaken Identity

Satu kata penyesalan mungkin tak akan dapat menjawab mengapa aku harus mengatakan ini, "Aku menyesal mengapa aku harus ke kantor hari ini tadi..., lalu apa jadinya jika aku tidak berangkat...? Mungkin ini semua takkan terjadi...,' Aku menyesalkannya. Seakan aku berat melangkahkan kakiku pada awalnya mungkin suatu pertanda, namun tak kuhiraukan. Kupikir aku hanya malas saja seperti biasanya. Tapi aku salah. Dan, inilah kesalahanku. 

Satu kesalahan identitas yang kuanggap benar. Tiba-tiba saja aku merasa seolah aku sedang tidak bekerja, dan entah dimana pikiranku saat itu. Apa yang kupikirkan? Apa yang telah kulakukan? Aku seperti kehilangan konsentrasi dan kendaliku. Aku mengakuinya... aku salah--ya, dan kuharap aku masih diberikan kesempatan untuk memperbaikinya. 

Sekali lagi...., sekali lagi aku berharap pada sebuah kesempatan, yang aku sendiri merasa kesempatan ini sudah tak ada lagi untukku. Siapa aku? Aku hanyalah manusia yang hanya bisa menuntut tanpa bisa melakukan apa-apa. Ketika semua orang di dunia berlomba-lomba untuk memberikan yang terbaik, apa yang lantas bisa aku lakukan? Tak ada. Aku seolah tidak hidup di dunia nyata. Aku seolah terasing dari duniaku sendiri. 

Tentang sebuah konsekuensi. Kuharap tak ada sesuatu pun yang mengkhawatirkan. Ya, aku tahu, itulah harapan--yang aku sendiri merasa sudah tak ada lagi kata harapan yang akan menghampiri hidupku--yang terbaik yang bisa aku ikrarkan. Hanya berucap dan (yah, seperti yang kau tahu) ucapan sama dengan doa. 

Aku hanya ingin bersikap baik. Mengapa susah sekali melakukan suatu kebaikan? Apakah para malaikat juga merasakan kesusahan seperti ini ketika mereka membantu umat-umatnya? Kupikir tidak. Malaikat tidak sama dengan manusia, dan begitu pula sebaliknya. Kembali, aku tak ingin menghujat apapun. Aku hanya bisa pasrah menerima ini semua. Toh, aku pun tak bisa melakukan apa-apa, semuanya terjadi begitu cepat tanpa sempat aku sadari. Jika aku bisa, aku ingin memutar kembali waktu yang telah berjalan ini mundur ke saat dimana aku belum melakukan apapun. Jika saja aku bisa....
Share:

Aku Hanya Ingin Kamu Tahu

Jika aku selalu mengeluh tentang waktu, maka aku takkan melakukannya lagi. Baiklah, jika apa yang telah kulakukan adalah salah, maka aku ingin meminta maaf. Manusia selalu tak pernah jauh dari kesalahan selama napas masih berhembus. Aku tak sepantasnya menghujat apa yang bukan menjadi bagian dari wewenangku. Pada akhirnya, aku tersadar bahwa aku hanyalah manusia biasa tanpa memiliki kelebihan yang cukup berarti. 

Ketika aku dihadapkan pada sebuah pilihan yang menurutku tak pernah mudah, aku tahu, pilihanku hanya ada dua--memilih atau tidak sama sekali. Tapi, aku tahu apa yang terbaik untukku. Dan, pilihanku tak pernah salah.

Pilihanku adalah kamu.

Mungkin kamu berpikir bahwa aku terlalu berlebihan hingga aku menuliskan ini untukmu. Tidak! Aku tak pernah seperti ini sebelumnya. Mencintaimu, adalah hal tersulit yang pernah aku lakukan. Mencintaimu tak pernah semudah aku mengganti sepatu kerjaku setiap hari. Mencintaimu lebih dari segalanya.

Seandainya pun Tuhan memberiku sebuah kelebihan yang bisa melihat masa depan, aku tak ingin melakukannya untuk kita. Masa depanku biarlah tetap menjadi misteri, dan aku tak akan pernah ingin mengetahuinya. Tidak sekali pun--meski terkadang keingintahuan itu ada. Aku dan kamu adalah misteri dan rahasia Tuhan. Aku hanya ingin berusaha sebaik mungkin, demi kita, dan semuanya.

Dan...,
Kamu tak pernah sendirian...

Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku selalu ada disini untukmu. Selalu. 
Share: