Senin, 04 Juli 2016

Memaafkan adalah Absolut

Juni, tahun 2016. 

Puasa hanya tinggal menghitung hari. Karena hanya tinggal beberapa hari ke depan semua umat muslim akan merayakan hari raya--Lebaran. Menurut saya, sama halnya dengan perayaan Valentine atau hari kasih sayang lainnya yang dirayakan tiap tanggal tertentu. Lantas, jika saya bertanya, 'apakah pada waktu hari dan tanggal itu saja kau merasa sayang terhadap orang tersebut? sedangkan hari-hari sesudahnya kau hanya menganggapnya sebagai hiasan?', maka tentu jawabannya adalah 'tidak'. Karena, ya memang benar, kodrat hidup manusia adalah makhluk sosial. Maka, bagaimana pun juga, apapun yang dilakukan dengan sengaja atau tidak, akan menimbulkan rasa tidak enak hati dengan sesamanya. Disinilah peran memaafkan dalam artian memaafkan yang absolut diperlukan. 

Namun, bukan  hanya memaafkan yang sekedar memaafkan dengan berjabat tangan disertai senyuman (yang agak memaksa) lalu pergi dan berlalu begitu saja. Oleh karenanya, saya mengatakan maaf yang absolut, dimana model memaafkan yang seperti itulah yang diperlukan. Tulus dan ikhlas yang didasari oleh rasa demi kemanusiaan. 

Sekali lagi saya katakan bahwa tak mudah menjadi sosok manusia yang bisa benar-benar ikhlas dalam hal-hal tertentu. Dalam banyak penggambaran kata, ikhlas dikategorikan sebagai sesuatu yang sungguh sulit dilakukan melebihi soal logaritma yang paling rumit sekali pun. Ikhlas diibaratkan sebagai ujian akhir tatkala kau usai mengarungi hidupmu bertahun-tahun lamanya. Pun, memaafkan membutuhkan semua komponen itu. Jika kau belum bisa memenuhi salah satunya, maka ucapan maaf yang kau berikan bukan berasal dari hati. 

"Happy Eid Mubarak for all!" 
- Mohon Maaf Lahir dan Bathin - 
Share:

0 komentar:

Posting Komentar