Tradisi yang Tak Pernah Berubah

Indonesia adalah negeri yang unik--setidaknya begitu kata orang dari berbagai penjuru dunia. Indonesia memiliki beraneka ragam budaya yang tidak ditemui di belahan negeri mana pun. Beranekaragamnya budaya dan ras suku bangsa itulah yang menjadikan Indonesia sebagai negeri yang unik. Mungkin bagi sebagian orang hanya menganggap bahwa Indonesia hanya sebelah mata saja demi melihat semua keunikan itu--menganggap bahwa suatu negara memang memiliki keunikannya sendiri-sendiri. Namun, apa yang mereka pikirkan adalah salah besar. Ketika mereka mengatahui sisi unik negeri ini yang sesungguhnya, mereka mungkin akan segera menarik ucapannya saat itu juga.

Keunikan budaya-budaya itu tentu saja akan melahirkan banyak tradisi yang sangat kental. Semakin banyak suku bangsa yang dimiliki oleh sebuah negeri, maka akan semakin unik sebuah negeri itu dipandang. Mungkin memang tak semata-mata bahwa apa yang tampak diluar sudah pasti bagus di dalam, namun dari sekian banyak kekayaan alam yang dimiliki oleh Indonesia, siapapun yang melihatnya akan merasa takjub.

Tradisi yang tak pernah berubah dari tahun ke tahun, dari satu generasi ke generasi berikutnya adalah tradisi meletupkan petasan saat menjelang malam takbir pada malam Lebaran keesokan harinya. Saya terkadang heran, apa gunanya meletupkan petasan?--dan terlebih, apa hubungannya malam menjelang Lebaran dengan petasan? Itu yang jadi pertanyaan saya sejak dulu.

Petasan sesungguhnya digunakan pertamakali pada perayaan tahun baru China atau yang biasa dikenal dengan Imlek. Memang benar bahwasanya Islam dibawa pertamakali masuk ke Indonesia oleh pedagang yang bukan berasal dari Indonesia, namun bukan berarti bahwa tradisi-tradisi yang tidak berkaitan itu lantas dikait-kaitkan. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaan yang kemudian dijadikan sebagai tradisi turun-temurun yang melekat erat dan tidak bisa dihilangkan. Jika dibahasakan secara modern, ini dinamakan sebagai trademark.

Namun, mungkin sejak saat itulah petasan begitu melekat pada perayaan Lebaran yang merupakan hari raya kemenangan bagi umat Islam. Kemeriahan yang terpancar di berbagai belahan dunia yang juga merayakan Lebaran atau EID Mubarak ini pun semakin meriah karena senantiasa diiringi oleh letupan petasan dimana-mana. Dar! Der! Dor!

Apapun itu--baik diiringi suara letupan petasan atau tidak--akan selalu menghadirkan kerinduan di benak saya. Selalu mengingatkan saya akan kebesaran Tuhan semesta alam. Selalu menyadarkan saya bahwa saya masih diberikan kesempatan mendengarkan suara-suara itu meski saat ini saya tengah menderita sakit, dimana saya (sementara waktu ini) hanya bisa mendengar dengan sebelah telinga saya, karena sesuatu hal. Saya tetap bersyukur--apapun itu. 

Komentar

Postingan Populer