Rabu, 22 Februari 2017

Laughing at the Moon for Love

Pemilihan judul blog yang sungguh aneh. Haha, sebenarnya bukan aneh, tapi memang aku sengaja menamainya seperti itu karena aku ingin menceritakan sesuatu yang mirip dengan cerita dalam sebuah novel (aku lupa judulnya).

Ketika sebuah jalinan tak lagi ada, namun keduanya masih bisa merasakan cinta yang mengalir dalam diri mereka masing-masing; pelan tapi pasti, gemerecik seperti aliran air sungai yang jernih. Jika kau bertanya apa yang membuat mereka berpisah, kau tak akan pernah bisa menjawabnya. Tak seorang pun di dunia ini yang menginginkan berpisah dari orang yang sangat dicintai. Terlebih jika mereka telah mengikat janji, mengikrarkan sebuah ucapan yang bahwa tak ada satu pun yang mampu memisahkan kecuali maut, maka berarti mereka telah siap berkorban demi apa pun. 

Namun, mungkin belum saatnya bagi mereka bersama. Tuhan memiliki rencana lain bagi mereka, yang nantinya mungkin akan lebih indah--jauh lebih indah--dari kehidupan mereka sebelumnya. Percayalah, Tuhan tak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan makhluk-makhluknya dalam menyelesaikan 'ujian' itu, bukan? Anggap saja, perpisahan itu adalah ujian. Jika kau lulus, maka nilai A+ yang kau dapat adalah kebahagiaan bagimu dan pasanganmu di babak kehidupan selanjutnya. 

Banyak yang berkata bahwa serpihan-serpihan cinta yang telah mereka pelihara bersama, menangis dan tertawa bersama, masih membasahi sanubari mereka meski mungkin tidak banyak. Sinarnya mungkin telah meredup, meski tidak mati seutuhnya. Tak ada satu pun diantara mereka yang rela menghapus perasaan itu. Terlalu indah untuk dilupakan. Terlalu manis untuk dibinasakan. Mereka hanya berharap sesuatu yang memisahkan mereka bisa segera runtuh dengan cepat agar mereka bisa kembali merajut asa yang hilang. Dan, ketika menunggu itu, biarlah cinta yang masih mengaliri darah segar mereka tetap seperti itu adanya tanpa perlu dibasuh. Hanya perlu dipelihara agar tetap menjadi bagian dari diri masing-masing, dan cinta itu akan abadi. Bukankah itu yang dinamakan rela berkorban? 

Karena..., 
Ketahuilah, seseorang akan melakukan apa pun demi orang yang dicintainya. Apa pun...
Share:

Selasa, 21 Februari 2017

Cinta dan Sesuatu Itu

Aku tak pernah mengerti apa sebenarnya yang disebut dengan cinta. Aku hanya mengerti bahwa cinta adalah sesuatu yang mengagumkan. Sungguh sangat mengagumkan, hingga aku menyadari bahwa mungkin aku seolah diperbudak oleh cinta. Aku merasa biasa saja, namun nyatanya tidak. Aku merasa tidak baik-baik saja, terutama saat aku merasa khawatir bahwa sesuatu akan merenggut semua yang telah ku miliki.

Tidak!

Aku sudah cukup mengalah dengan membiarkan apa yang ku miliki beberapa tahun yang lalu direnggut paksa dari genggaman tanganku. Meski aku tidak terlalu merasakan kesedihan yang cukup mendalam, namun rasa sakit dalam hati itu cukup membuatku tersungkur. Perih dan tersayat seolah luka itu takkan bisa sembuh dalam waktu dekat.

Oh tapi sudahlah, aku tak pernah menganggap kisah memilukan itu sebagai sesuatu yang mempengaruhi alur hidupku selanjutnya. Mungkin memang iya, namun pengaruhnya bukan dari apa yang akan ku lakukan, melainkan lebih ke dalam pribadiku sendiri. Aku masih belum berhasil menyembuhkan luka-luka hatiku. Sungguh sedikit yang telah berhasil ku sembuhkan--meski masih dalam keadaan terbalut airmata.

Berpikir positif, adalah satu-satunya cara melepaskan diri dari semuanya. Semua yang berpotensi menambah luka hati ini semakin menganga. Aku tahu apa maksud Tuhan menghadirkan dia di sisiku, menemani hari-hariku, dan menyeka airmataku ketika terjatuh di pipiku; agar aku bisa kembali tersenyum dan menjadi diriku yang dulu.

Aku memang bahagia--ya, aku tahu. Namun, bukan makhluk hidup namanya jika tidak ada kesedihan dan masalah di dalamnya. Aku hanya bisa menghadapi semuanya dengan sabar dan tetap berusaha menjadi diriku sendiri, tanpa harus aku melupakan masa laluku.
Share:

Senin, 20 Februari 2017

Internet sebagai Tiang Komunikasi

Komunikasi bisa dibilang menjadi satu-satunya cara agar manusia yang satu dengan lainnya bisa menyampaikan maksud tertentu. Komunikasi bisa dibagi menjadi dua unsur, yakni komunikasi verbal dan non verbal. Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial yang selalu membutuhkan manusia yang satu dengan lainnya, karenanya mereka dihubungkan dengan sebuah komunikasi--baik yang dilakukan dalam jarak jauh maupun dekat.

Di era digital seperti sekarang ini, banyak hal yang dapat mendukung kelancaran berkomunikasi dengan keluarga, teman, maupun orang terkasih. Semua perangkat yang mendukung kelancaran berkomunikasi itu terhubung dengan ponsel atau yang sering disebut dengan smartphone dan paket data seluler.

Kini, masyarakat saling berlomba-lomba untuk 'berburu' paket data seluler terbaik yang dapat digunakan untuk berkomunikasi dan melakukan hal lain dengan lancar dan tanpa terputus atau patah-patah (buffering).

Lokasi : Kebun Raya, Bali
Aktivitas saya sebagai wanita karir dan penulis aktif di sebuah akun media sosial wattpad mengharuskan saya untuk tetap terhubung dengan internet di mana pun saya berada. Karena terkadang pekerjaan-pekerjaan itu 'memanggil' saya di saat saya sedang tidak berada di kantor atau pun ketika saya sedang tidak berada di area wilayah yang jarang terjamah oleh sinyal ponsel.

Hingga tahun 2017 ini, entah saya tidak ingat lagi berapa kali saya sudah berganti nomor kartu seluler, dikarenakan saya merasa jaringan dan jangkauan sinyal dari kartu-kartu tersebut kurang baik dan tidak cocok dengan aktivitas saya yang kadang kala harus berada di d
Lokasi : Pantai Pandawa, Bali
aerah terpencil yang jarang bisa dijangkau oleh jaringan telekomunikasi.

Namun, atas sebuah rekomendasi yang diberikan oleh teman-teman saya yang memiliki aktivitas yang juga tak jauh berbeda, saya beralih untuk mencoba menjadi pelanggan XL. Sejak sekitar setahun yang lalu hingga saat ini, saya belum pernah merasa kecewa dengan fasilitas dan kelebihan yang diberikan oleh XL, dan saya merasa bahwa apa yang saya dapatkan lebih dari apa yang saya bayangkan. Komunikasi saya tetap berjalan lancar dan semua pekerjaan saya dapat terselesaikan dengan baik. Kemudian, sejak sebulan yang lalu, saya meningkatkan status penggunaan data saya menjadi pelanggan XL Prioritas Plan M (pascabayar), agar saya bisa memaksimalkan penggunaan paket data seluler saya dengan tanpa terputus atau kerepotan untuk harus selalu mendaftar paket data bulanan. Saya pikir menjadi pelanggan pascabayar menjadi lebih praktis dan fleksibel.

Berkomunikasi dengan menggunakan XL dengan jaringan yang semakin baik dan terus berkembang dari tahun ke tahun membuat hidup saya menjadi lebih baik dan menjadi lebih berwarna serta sangat jauh dari kata membosankan. Saya memiliki keluarga yang tinggal jauh di luar kota dan luar pulau Jawa. Namun, dengan XL semua keberagaman itu tidak lagi menjadi masalah yang berarti.

Sebuah layanan yang baik dan terus berinovasi yang diberikan XL tak hanya membuat hidup saya lebih berarti, tetapi juga orang-orang di sekitar saya. Sesekali saya merekomendasikan orang-orang terdekat saya agar mereka juga menggunakan kartu seluler dan paket data seperti yang saya gunakan. Bukan hanya agar jika berkomunikasi antarsesama menjadi lebih mudah dan menghemat biaya, tetapi juga agar mereka bisa merasakan apa yang saya rasakan. Suatu perubahan yang sungguh mengagumkan.
Share:

Sabtu, 18 Februari 2017

Air yang Kering

Terkadang menangis memang bisa menyelesaikan masalah, tapi tidak selalu. Ada kalanya menangis bisa membasuh luka-luka hatimu saja tanpa bisa mengeringkannya, namun ada juga yang berkata bahwa menangis merupakan pekerjaan yang sia-sia karena tidak ada hasil yang di dapat. Mungkin saja pendapat itu benar, tapi aku tak bisa percaya seratus persen. Ketika lubuk hatimu tersayat oleh sesuatu yang berasal dari orang yang kau sayang, maka tanpa sadar air matamu akan jatuh untuk membalutnya.

Bagiku, air mata itu suci, karena mengalir dari sebuah perasaan yang tulus. Namun, kadang kala lembah air mata itu mengering saat kau terlalu lama merasakan sebuah kesedihan yang teramat dalam dan menahan sebuah rasa kecewa yang begitu pekat.

Tak pelak, lambat laun kau akan terbiasa dengan 'hal-hal' menyedihkan semacam itu. Lambat laun perasaan-perasaan itu kemudian seolah menjelma menjadi 'sahabat kesedihan' yang senantiasa hadir saat kau terluka.

Aku pernah merasakannya. Dan, kurasa, aku seperti sudah terbiasa dengan itu semua. Mungkin jika diibaratkan, seperti obat jenis generik yang diberikan padamu saat kau sudah terbiasa meminum obat-obatan dengan dosis yang tinggi, maka obat-obatan jenis generik itu tak akan mempan untuk menyembuhkan penyakitmu--meski mungkin kau hanya terserang flu.

Lembah air mata ini telah mengering--meski tak menutup kemungkinan aku masih akan bisa menangis, jika aku kembali merasakan kesedihan yang mendalam yang tak mampu ku bendung dengan tebalnya dinding kekecewaanku.

Tapi, seorang wanita yang menangis bukan berarti menandakan bahwa ia lemah. Justru ia adalah seseorang yang kuat, karena ia berusaha tegar dan menyembuhkan luka-luka hatinya sendiri tanpa harus meminta bantuan orang lain. Ia tahu ia terluka, dan ia masih tetap berusaha bertahan demi cinta yang seolah buta tentang di mana ia berlabuh.

"Cinta yang dibasuh air mata akan tetap murni dan indah." -Muhamad Agus Syafii
Share:

Kamis, 16 Februari 2017

Hujan

Tak dapat dipungkiri bahwa hujan selalu membawa berkah bagi siapa pun. Pun, tak terkecuali aku. Meski terkadang hujan membuatku kesal karena sesuatu yang basah, namun dalam hati aku sangat bersyukur. Hujan sama halnya dengan cinta. Mereka seolah memiliki ikatan bathin yang kuat, sehingga kerap hujan dikaitkan dengan cinta. 

Sungguh romantis adanya ketika kau hanya memandangi hujan dengan perasaan campuraduk, tentang bagaimana kau akan pulang ke rumah dengan tanpa basah sedikit pun. Sederetan keluhan sudah pasti terlontar dari mulutmu. Namun, apa yang kau rasakan ketika apa yang kau inginkan dikabulkan Tuhan? Ketika yang kau inginkan ternyata berbalas dengan manis? Rasanya tubuh ini mendadak ringan seakan melayang-layang terbang hingga melintasi langit tujuh nirwana, bukan?

Hujan mungkin memang menyebalkan, tapi bagiku hujan adalah pembawa nikmat tersendiri. Meski tak selalu, hujan kerap membuat senyumku terkembang. Meski tak selalu, hujan juga kerap membuat luka yang menganga di hatiku terbasuh dan perlahan tertutup.

Ku sebut bahwa hujan adalah bagian dari cinta.
Dan, cinta lah yang membuatku tersenyum..., termasuk menjelma menjadi obat mujarab yang bisa menyembuhkan luka-luka hatiku yang telah menganga terlalu lama, dan nyaris kering.

Terima Kasih, Hujan.
Pun, ini tak lepas dari campurtanganMu, Tuhan.
  
Tentang kau dan hujan..,
Tentang cinta kita... 
Yang mengalir seperti air...
(Hujan, performed by : Utopia) 
Share:

Senin, 13 Februari 2017

Colorful

Sebelumnya mungkin aku tak pernah menganggap bahwa hidupku sesungguhnya berwarna, dan juga banyak kejadian lucu di dalamnya. Mungkin juga aku tak terlalu memerhatikan hidupku sendiri. Aku terlalu sibuk dengan urusanku sendiri--yang aku sendiri terkadang tidak tahu apa yang sedang ku lakukan. Pentingkah itu? Atau, seberapa penting hal itu sehingga aku sampai harus tidak memerhatikan hidupku yang sesungguhnya. 

Baiklah, aku menyalahkan diriku sendiri. Ketika sesuatu yang tak pernah kau duga sebelumnya datang menyapa hidupmu di saat kau sedang tidak siap, apa yang akan kau lakukan? Menghindar? Atau, justru terjun ke dalamnya? 

Ketika sesuatu itu adalah apa yang menjadi mimpimu yang tertunda, apa pula yang akan kau lakukan? (Masih) Tetap menghindar? Atau, (semakin) dalam untuk ingin terjun ke sana, demi menyelami apa yang terjadi seandainya kau melakukan itu?--seperti layaknya jika kau ingin bunuh diri. Seperti itukah?

Aku tak bisa mengatakan bahwa hidupku sebelumnya sungguh penuh warna. Hanya satu warna saja, mungkin. Tapi, entah mengapa kini semuanya seolah penuh warna dan aku menyukai warna-warna itu. Sungguh indah, seolah aku tak pernah melihatnya sebelumnya. Sederetan mimpi masa lalu yang sempat ku pendam, ku kubur dalam sebuah kotak besi, dan ku tanamkan dalam benakku bahwa aku menyebutnya sebagai sebuah kegagalan, kini menyeruak kembali ke permukaan. 

Seharusnya aku menelan kunci gembok itu, namun ternyata ada yang terlewat olehku. Aku tak menelannya, melainkan hanya kuletakkan di suatu tempat yang lokasinya saja sudah tak ada lagi dalam daftar ingatanku. Dan, entah apa yang terjadi kini apakah merupakan bagian dari kesalahanku karena tak menelan kunci gembok itu ataukah ada campur tangan Tuhan di dalamnya, yang jelas aku merasa sangat baik-baik saja dan aku menikmatinya sebagai sebuah anugerah yang mahaindah--meski aku tahu aku akan terluka, lebih dan lebih lagi, hingga sang waktu berkata aku tak perlu terluka lagi. 

Hingga sang waktu berkata bahwa aku tak perlu terluka lagi, selamanya...
Share: