Air yang Kering

Terkadang menangis memang bisa menyelesaikan masalah, tapi tidak selalu. Ada kalanya menangis bisa membasuh luka-luka hatimu saja tanpa bisa mengeringkannya, namun ada juga yang berkata bahwa menangis merupakan pekerjaan yang sia-sia karena tidak ada hasil yang di dapat. Mungkin saja pendapat itu benar, tapi aku tak bisa percaya seratus persen. Ketika lubuk hatimu tersayat oleh sesuatu yang berasal dari orang yang kau sayang, maka tanpa sadar air matamu akan jatuh untuk membalutnya.

Bagiku, air mata itu suci, karena mengalir dari sebuah perasaan yang tulus. Namun, kadang kala lembah air mata itu mengering saat kau terlalu lama merasakan sebuah kesedihan yang teramat dalam dan menahan sebuah rasa kecewa yang begitu pekat.

Tak pelak, lambat laun kau akan terbiasa dengan 'hal-hal' menyedihkan semacam itu. Lambat laun perasaan-perasaan itu kemudian seolah menjelma menjadi 'sahabat kesedihan' yang senantiasa hadir saat kau terluka.

Aku pernah merasakannya. Dan, kurasa, aku seperti sudah terbiasa dengan itu semua. Mungkin jika diibaratkan, seperti obat jenis generik yang diberikan padamu saat kau sudah terbiasa meminum obat-obatan dengan dosis yang tinggi, maka obat-obatan jenis generik itu tak akan mempan untuk menyembuhkan penyakitmu--meski mungkin kau hanya terserang flu.

Lembah air mata ini telah mengering--meski tak menutup kemungkinan aku masih akan bisa menangis, jika aku kembali merasakan kesedihan yang mendalam yang tak mampu ku bendung dengan tebalnya dinding kekecewaanku.

Tapi, seorang wanita yang menangis bukan berarti menandakan bahwa ia lemah. Justru ia adalah seseorang yang kuat, karena ia berusaha tegar dan menyembuhkan luka-luka hatinya sendiri tanpa harus meminta bantuan orang lain. Ia tahu ia terluka, dan ia masih tetap berusaha bertahan demi cinta yang seolah buta tentang di mana ia berlabuh.

"Cinta yang dibasuh air mata akan tetap murni dan indah." -Muhamad Agus Syafii

Komentar

Postingan Populer