Cinta Tanpa Syarat

Entah apa lagi yang terjadi padamu. Kau seolah tak mengenaliku. Ragamu memang berada di sini, tapi jiwamu seolah melayang-layang entah ke mana. Bukan hanya sekali-duakali kau bersikap seperti ini, dan ini adalah sikap anehmu yang kesekian kalinya. Aku seolah telah terbiasa dengan kau yang seperti ini. Kau tahu--bisa kutebak--mungkin hanya aku satu-satunya orang yang bisa memahami dan memaklumi 'sifat aneh'-mu ini. 

Ini seperti pembelajaran kelas kebatinan, di mana aku harus selalu menggunakan insting, perasaan, dan intuisiku sebagai seorang kekasih untuk memahami apa yang kau inginkan. Jika seseorang mengatakan aku seperti sedang bermain teka-teki atau menyusun kepingan-kepingan puzzle, ini lebih dari itu. Ini bahkan lebih rumit dari puzzle terumit mana pun. 

Mungkin, sempat kecewa, dan kekecewaan itu kerap melukai hatiku dan membuatku menangis. Namun, aku pernah menuliskannya, bahwa air mataku kini nyaris kering. Tak terhitung lagi berapa kali aku kecewa dengan sikapnya dan menangis terluka karenanya. Rasa sakit yang seolah sudah melekat. Toh aku tak pernah memedulikannya. Terluka pun takkan mengubah atau pun mengurangi besarnya rasa cinta yang ku rasakan. Cinta ini murni dan tak bersyarat.

Kau memang sungguh manis dan meski kau tak pernah mengucap cinta, namun semua perhatian yang terkadang kau berikan sudah cukup untuk mewakili perasaanmu padaku. Dan, aku tahu kau tidak berpura-pura.

Mungkin, aku agak berlebihan, dan kau juga sering memperingatkanku. Tapi, jika bukan rasa cinta ini aku tak mungkin berbuat senekat itu. Aku sadar, sikapku yang seperti ini tak bisa ku biarkan terus-menerus, aku harus segera mengikisnya perlahan. Terlebih, kau pernah mengatakan bahwa cinta di antara kami tak perlu diragukan lagi. Aku hanya harus bersabar. Itu saja. 

Komentar

Postingan Populer