Behind These Hazel Eyes

Kepulan asap yang berasal dari mie goreng itu mengudara tepat ketika lagu yang dilantunkan oleh Kelly Clarksson itu diputar di sebuah kafe temaram saat malam selepas hujan. Sepasang kekasih yang sejatinya tengah berteduh itu memilih spot di ujung ruangan yang berada di sisi sebelah kolam kecil dengan masih saling terdiam tenggelam dalam pikiran masing-masing sembari menikmati sejuknya udara malam. Ikan-ikan kecil yang berenang mengitari kolam kecil di sisi mereka juga seolah mendampingi kebisuan mereka. Hanya suara gemericik air kolam yang mengisi keheningan di antara mereka. 

Tak berapa lama setelahnya, si pemuda kemudian berbicara sambil menoleh ke arah gadis di sampingnya. "Beb, gimana sih caranya berhemat dan menabung?" 

Gadis di sampingnya itu menghentikan aktivitasnya memainkan garpu mie di tangannya dan menatap si pemuda sambil mengulas senyum. Tampak sekali bahwa si gadis sungguh antusias dengan pertanyaan kekasihnya itu. "Menabung itu kalo kamu punya sisa duit lebih setelah semua kebutuhanmu selama sebulan itu terpenuhi."

"Oh." Si pemuda mendengarkan penjelasan kekasihnya itu sambil mengangguk-angguk mengerti, namun matanya masih menatap si gadis dan tersenyum. Siapa pun yang memandang senyumnya takkan dapat menebak apa yang sesungguhnya dipikirkan oleh pemuda itu. Namun, si gadis sepertinya tidak memedulikan hal itu. Rasa cintanya terhadap pemuda itu melebihi apa pun yang pada awalnya sempat membuatnya berpikir dua kali ketika perasaan yang selama ini hanya sekedar teman biasa lambat laun berubah menjadi rasa sayang dan takut akan kehilangan. Ia sadar dirinya harus berhadapan dengan segala resiko yang mungkin akan dihadapinya--sesulit apa pun itu.

"Mie-nya mau nambah lagi?" tanya si pemuda membuyarkan lamunan si gadis.
"Oh nggak usah, Beb, udah ini aja cukup."
"Ya udah cepetan dihabiskan terus aku antar pulang. Udah malam."
"Iya."

Waktu memang tidak pernah bisa berkompromi dengan keadaan. Tidak tahukah waktu bahwa apa yang dimaksud si gadis dengan 'tidak ingin kehilangan' tadi juga berarti tidak ingin kehilangan saat-saat berduaan seperti malam itu? Ingin rasanya waktu dihentikannya, andaikata ia mampu. Ingin rasanya hari dibekukannya, andaikata pun ia memiliki kuasa. Tapi, sayangnya tidak. Kembali ia harus menyerah pada waktu sambil dalam hati ia sungguh berharap bisa mengulang momen-momen romantis seperti di lain kesempatan, meski tidak harus di lokasi dan di waktu yang sama.

Komentar

Postingan Populer