Senin, 19 Juni 2017

Fall In Love

Ketika cinta mengecewakanku, aku tak lagi merasa bahwa itu adalah sesuatu yang menyakitkan. Kekecewaan seakan sudah menjadi makananku sehari-hari. Hatiku memang tidak terbuat dari besi atau pun baja, tapi seiring dengan berjalannya waktu dan semua yang telah terlewati hati yang hanya terbuat dari gumpalan tanah ini lambat laun akan menjadi kuat; sekuat besi dan bahkan baja.

Banyak yang bertanya mengapa aku bisa sekuat ini. Oh tentu menjawabnya bukan perkara mudah. Menjawabnya pun bukan perkara sekedar menjawab atau menyenangkan si penanya; melainkan proses. Ada sebuah proses yang harus aku lalui terlebih dahulu sampai akhirnya aku sekuat ini.

Jika bukan karena cinta, aku takkan menjadi seperti ini. 

Mereka harus tahu bahwa aku tak sekuat itu. Aku juga bukan wanita super yang bisa dengan mudah terluka dan bisa dengan mudah sembuh dari lukanya sendiri. Tidak. Aku juga bisa menjadi sangat rapuh dan tak berdaya, tapi aku cukup menyimpannya dalam diriku. Meski terkadang aku lelah, aku nyaris tak memedulikannya. Apa yang ku rasakan sekarang jauh lebih indah daripada rasa sakit yang terus-menerus menggerogoti hati dan jiwaku. Sakit, tapi aku tak berdaya. 
Share:

Rabu, 14 Juni 2017

Terpukau

Syukurlah, jika Tuhan masih memberikan aku kesempatan untuk berbahagia bersama dengan seseorang yang aku cinta. Setelah aku melalui hari-hari yang penuh dengan dramatisasi hidup, sekarang aku hanya ingin tertawa lepas berdua saja dengannya. Menjadi bagian dari dirinya adalah impianku sejak aku menjadikannya 'pangeran impian'-ku.

Mungkin aku setengah gila atau tak waras ketika semua orang menganggap apa yang ku lakukan demi mempertahankan cinta ini sungguh di luar akal sehat. Siapa pun yang mengikuti alur ini dari pertama kali mengenalnya hingga aku merasa bahwa apa yang ku lihat selama ini hanya sebatas teman, ternyata aku merasakan hal yang berbeda di hatiku. Sebuah perasaan bahwa aku takut kehilangannya. Sejak itu aku merasa apa pun yang ku miliki seakan aku tak peduli lagi jika harus terenggut hingga tiada harta benda lagi di tanganku, asalkan aku memilikinya dan bisa terus bersamanya sampai aku menutup mataku selama-lamanya.

Aku telah tersihir oleh pesonanya.
Aku telah terpukau oleh kharismanya.

Jika aku diberikan pilihan saat hari ulangtahunku tiba kemarin, maka jelas aku akan memilih apa pun yang mungkin bisa membuatku selalu bersamanya, berdua tak terpisahkan, dan tak ada lagi kekecewaan atau pun airmata.

"Itu sekaligus menjadi doa-ku, karena masih dalam Bulan Juni, kan?" 
Share:

Jumat, 09 Juni 2017

A Dramatic Birthday

Tak ada yang lebih membahagiakan ketika hari jadimu dirayakan, meski yang kau lihat hanya secuil kue yang telah mengering dan sebatang lilin yang sudah hampir padam. Kesederhanaan. Setidaknya itu yang ku ingat saat mereka merayakan ulang tahunku yang ke-5 kala itu.

Tapi, seiring dengan berjalannya waktu perayaan itu tak lagi penting bagiku. Aku cukup merayakannya seorang diri atau mungkin dengan teman-teman. Aku tak lagi menganggap bahwa hari jadi alias ulang tahun adalah sesuatu yang harus dirayakan, apalagi mengharapkan kado. Kupikir sudah bukan jamannya lagi ada kado-kado semacam itu di tahun 2017 ini. Artinya, bukan lagi kado yang dirupakan dengan barang dan dibungkus dengan kertas warna-warni, melainkan bisa berupa perhatian-perhatian kecil dari seseorang yang istimewa. Sekecil apa pun perhatian yang diberikan jika dilakukan dengan tulus, hasilnya akan berbeda dan bahkan bisa melebihi dari sekedar kata bahagia.

Padahal, bahagia itu begitu sederhana. Sangat sederhananya sampai-sampai sebuah tangan kosong pun bisa menciptakan sebuah kebahagiaan. Ajaib? Iya, memang. Dari sana, aku tak ingin mengulang dan melihat ke belakang tentang beberapa hari yang telah kulalui sebelum hari ulangtahunku yang sungguh dramatis ini tiba.

Kesialan demi kesialan harus aku lewati dan aku sadar aku tak memiliki tempat dimana aku bisa berteduh walau sejenak. Tak ada alasan untukku menghindar. Karena menghindar pun juga tak ada gunanya. Entah apa maksudnya kesialan demi kesialan itu mengejarku, aku sungguh tak mengerti--karena aku tak pernah mengalami seperti ini sebelumnya.

Tapi, itu semua terbayarkan dengan kado istimewa yang kudapat setelahnya. Oh God, mungkin peribahasa yang mengatakan 'bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian' itu tidak salah, ya?--dan, inilah aku sekarang.

Mungkin perayaan peristiwa hari ulangtahunku sungguh dramatis, tapi aku bahagia dan tetap bersyukur. (Dan, memang tugas manusia itu hanya bersyukur, kan?) Bersyukur bahwa aku masih diberikan waktu jatah untuk hidup, meskipun aku tahu jatah hidupku berkurang di dunia ini. Juga, bersyukur aku masih diberikan kesehatan wal afiat hingga aku masih bisa memberikan senyumku untuk mereka yang telah berada bersamaku selama ini. Keluarga yang selalu menyayangiku, meski terkadang aku merasa sangat bersalah kepada mereka.

"Terima kasih untuk semua, dan siapa pun yang telah membuat hidupku sempurna..."
Share:

Rabu, 07 Juni 2017

The Unlucky Day

Hari ini mungkin seharusnya aku tak keluar rumah, atau pergi kemana pun. Aku sedang sial. Semua-semua yang ku lakukan rasanya selalu salah, entah dimana letak kesalahan itu. Ada saja yang membuat semuanya kacau balau. 

Mulai dari kecelakaan motor, kejadian yang sangat menyebalkan di kantor, hingga sesuatu yang buruk yang menyebabkan aku bertengkar dengan kekasihku. Tuhan, ada apa ini? 

Aku hanya menyesalkan kenapa aku harus se-ceroboh itu; yang seharusnya tak perlu terjadi jika aku mengikuti peraturan yang ada. Dan, seumur hidup, baru kali ini aku mengalami rentetan kejadian buruk dalam 24 jam non stop.

Entah apa yang ada di pikiranku ketika kecelakaan itu terjadi. Tiba-tiba saja mobil itu melaju tanpa aku sadari dan aku sama sekali tidak memiliki jeda waktu untuk meraih kampas rem dan menghentikan laju kendaraanku. Aku masih beruntung karena tak ada luka berarti yang menimpaku. Namun, ada sedikit lecet-lecet di permukaan cat motorku. Aakhh... itu masih baru!! Dasar sial!!

Kemudian, kejadian berikutnya juga tidak ku mengerti. Pasalnya, setiap karyawan kantor diberikan izin cuti untuk meninggalkan kantor selama beberapa jam saja atau seharian penuh. Dan, jelas saja, aku menggunakan hak cutiku karena ada keperluan yang sungguh mendesak. Lantas, kenapa teman sejawatku tak menyukainya? Aku toh telah menyelesaikan tugas-tugas dan pekerjaanku. Apa salahku? Demikian pula dengan mereka yang menuntut hak mereka dengan cara yang sama, malah mungkin lebih parah dariku, dan mereka toh biasa saja, begitu juga dengan lingkungan di sekitarnya. Terkadang pemikiran akal sehatku tak sampai ke sana untuk memahaminya. Hanya gara-gara cuti saja, aku didiamkan seperti patung begitu? God, dunia macam apa ini?

Yang kemudian, sesuatu yang seharusnya tak perlu terjadi antara aku dan kekasihku. Sebuah pertengkaran kecil yang terjadi untuk yang kesekian kalinya. Dia memang sudah memperingatkanku beberapa waktu lalu sebelum bulan puasa tiba. Tapi, mungkin aku tak mengindahkannya. Dan sekarang, jika dia marah (mungkin), itu wajar, dan itu salahku. Aku akan berusaha memperbaikinya. 
Share: