A Dramatic Birthday

Tak ada yang lebih membahagiakan ketika hari jadimu dirayakan, meski yang kau lihat hanya secuil kue yang telah mengering dan sebatang lilin yang sudah hampir padam. Kesederhanaan. Setidaknya itu yang ku ingat saat mereka merayakan ulang tahunku yang ke-5 kala itu.

Tapi, seiring dengan berjalannya waktu perayaan itu tak lagi penting bagiku. Aku cukup merayakannya seorang diri atau mungkin dengan teman-teman. Aku tak lagi menganggap bahwa hari jadi alias ulang tahun adalah sesuatu yang harus dirayakan, apalagi mengharapkan kado. Kupikir sudah bukan jamannya lagi ada kado-kado semacam itu di tahun 2017 ini. Artinya, bukan lagi kado yang dirupakan dengan barang dan dibungkus dengan kertas warna-warni, melainkan bisa berupa perhatian-perhatian kecil dari seseorang yang istimewa. Sekecil apa pun perhatian yang diberikan jika dilakukan dengan tulus, hasilnya akan berbeda dan bahkan bisa melebihi dari sekedar kata bahagia.

Padahal, bahagia itu begitu sederhana. Sangat sederhananya sampai-sampai sebuah tangan kosong pun bisa menciptakan sebuah kebahagiaan. Ajaib? Iya, memang. Dari sana, aku tak ingin mengulang dan melihat ke belakang tentang beberapa hari yang telah kulalui sebelum hari ulangtahunku yang sungguh dramatis ini tiba.

Kesialan demi kesialan harus aku lewati dan aku sadar aku tak memiliki tempat dimana aku bisa berteduh walau sejenak. Tak ada alasan untukku menghindar. Karena menghindar pun juga tak ada gunanya. Entah apa maksudnya kesialan demi kesialan itu mengejarku, aku sungguh tak mengerti--karena aku tak pernah mengalami seperti ini sebelumnya.

Tapi, itu semua terbayarkan dengan kado istimewa yang kudapat setelahnya. Oh God, mungkin peribahasa yang mengatakan 'bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian' itu tidak salah, ya?--dan, inilah aku sekarang.

Mungkin perayaan peristiwa hari ulangtahunku sungguh dramatis, tapi aku bahagia dan tetap bersyukur. (Dan, memang tugas manusia itu hanya bersyukur, kan?) Bersyukur bahwa aku masih diberikan waktu jatah untuk hidup, meskipun aku tahu jatah hidupku berkurang di dunia ini. Juga, bersyukur aku masih diberikan kesehatan wal afiat hingga aku masih bisa memberikan senyumku untuk mereka yang telah berada bersamaku selama ini. Keluarga yang selalu menyayangiku, meski terkadang aku merasa sangat bersalah kepada mereka.

"Terima kasih untuk semua, dan siapa pun yang telah membuat hidupku sempurna..."

Komentar

Postingan Populer