Again and Again

Kenyang dengan sebuah kekecewaan bukanlah hal baru bagiku, di saat aku merasakan cinta yang menghangatkan relung kalbuku. Seolah keduanya hidup damai berdampingan dan mengoyak tempat singgah mereka menjadi puing-puing berhamburan. 

Cinta yang ku rasakan yang seharusnya bisa membawaku terbang tinggi, namun aku harus kembali berkutat dengan pikiran-pikiran negatif dan prasangka yang tidak seharusnya ku lakukan. 

Cukuplah bila aku hanya bisa diam dan berharap agar suatu hari nanti akan bisa berubah seperti sedia kala. Sekecil apapun harapan itu aku akan tetap menunggunya.

Aku hanya takut hatiku yang sudah terlalu banyak terluka ini tiba-tiba saja akan berubah tanpa aku sadari dan terlebih tidak kuinginkan. Aku hanya manusia biasa yang bisa berubah kapan saja. Meski dalam hati aku tidak menginginkan perubahan apapun tentang perasaan cinta ini, tapi semua segala sesuatunya bisa saja terjadi diluar kendaliku. Itu yang paling aku takutkan.

Aku takut

Aku takut jika nantinya aku harus membenci. Dan, aku tak ingin jika itu sampai terjadi padaku, pada hatiku, pada rasa cintaku. Rasa cinta yang telah aku pupuk dan aku pelihara dengan sangat baik, tak mungkin aku dengan tega membuangnya begitu saja. Ada perasaan tulus, suci, dan murni yang tumbuh di sebuah lembah yang subur disana. Sebuah lembah yang awalnya gersang dan kering yang kata orang nyaris tak mungkin lagi ada hati yang akan tumbuh. Namun, dengan segenap jiwa dan di antara puing-puing reruntuhan hatiku, aku masih berkeyakinan bahwa ini belum berakhir. Aku yakin jikalau aku merawat dan mengembalikan lembah ini seperti sedia kala, mungkin akan ada lagi hati yang akan tumbuh subur di sini. Dan, inilah perasaan itu sekarang. Yang dengan manisnya aku jaga dan aku sayangi, melebihi aku menyayangi diriku sendiri.

Aku hanya tidak ingin ini semua berlalu begitu saja dengan sia-sia belaka. Terlalu banyak yang harus dikorbankan jika tak ada sesuatu pun yang aku dapatkan. Aku hanya menginginkannya, ada untukku di setiap waktu, menit dan detik, ada disaat aku butuh bahunya untukku menangis dan berkeluh, dan ada disaat aku harus menutup mataku selama-lamanya.

Aku menginginkannya menjadi milikku, selalu dan selamanya.     

Komentar

Postingan Populer