Senin, 29 Januari 2018

Sepenggal Kalimat

Catatan Hati untuk Seorang Kau...

Mungkin Tuhan sedang mengujiku. Mungkin juga Tuhan sedang mencoba memberikanmu 'jalan lain' agar kau memahami bagaimana cara menghargai perasaan seorang wanita yang begitu tulus mencintai. Tak ada wanita mana pun yang sanggup kehilangan cinta sejatinya. Cinta yang dengan susah payah dirajutnya hingga darah mengucur dari ujung jarinya karena tertusuk sembilu. 

Kau hanya manusia munafik yang takkan pernah bisa memahami apa itu perasaan; apa itu cinta. Bahkan, kau pun tak pernah merasa memilikiku sebagai kekasihmu. Ironis!

Kau hanya manusia berhati iblis yang dengan keji tega menyia-nyiakan dan membuang seseorang sepertiku yang hanya bisa mencintaimu dengan tulus tanpa ada rasa pamrih dan tanpa alasan. Satu-satunya yang masih bisa membuatku bertahan adalah besarnya rasa cinta dan perjalanan yang tidak pernah mudah.

Namun, apapun yang telah kita ukir dan abadikan bersama tak lantas lekang dari pikiranku. Meski aku coba ingkari semua, ingatan itu bahkan semakin menghantuiku.

"Ciprut, kok rung turu?"(*) tanyamu malam itu ketika aku tak juga terlelap saat waktu menunjukkan pukul satu dini hari.

"Oh aku masih belom ngantuk Beb. Kamu sendiri ngapain belom bobok juga?" jawabku dengan sedikit merasa heran dengan panggilan 'ciprut' yang ia ucapkan. Panggilan lucu yang baru saja ku dengar keluar dari mulutnya.

"Aku wis ngantuk iki. Ndang bubuk Beb, sesuk kerjo."(**)

Biasanya aku tidak langsung tidur ketika ada yang memperingatkanku tentang jam tidurku yang tidak teratur. Tapi, entah kenapa saat O.D. yang mengucapkannya, saraf motorikku sontak melaksanakan perintah itu.

Sedikit pun aku tak pernah ingin atau pun berniat untuk menentangnya atau apapun yang membuatnya terluka. Sepenuh hati aku hanya ingin membuatnya tersenyum dan bahagia. Bagiku, kebahagiaannya dan keberadaannya di sisiku selalu adalah hadiah terindah untukku.

(*) "Ciprut, kok belum tidur?"
(**) "Aku sudah mengantuk ini. Cepat tidur, Beb, besok kerja."

Share:

Kamis, 18 Januari 2018

Kisah Malam Mengenangmu

Aku memang orang yang tak bisa dengan mudah melupakan apapun yang menjadi milikku dan lantas hilang begitu saja terenggut paksa dari tanganku. Siapa yang rela melepaskan apa yang menjadi kesayangannya diambil orang lain? Tak satu pun! 

Semua hal yang terhubung denganmu akan selalu membekas dalam ingatanku--tanpa ada yang terlewat. Jika kau tanpa sengaja membaca tulisan ini, kau mungkin akan teringat dengan ucapanmu kala itu saat kau mengantarku pulang. Atau, entahlah jika kau dengan sengaja menghapus semua kenangan yang telah kita ukir bersama lantas kau hancurkan dengan tanpa ampun.

Malam itu sekitar pukul delapan lewat limabelas menit dan kau mengantarku pulang dengan motor biru hingga mendekati perumahan tempat di mana aku tinggal. Semua sungguh terasa indah jika aku bersamamu dan rasanya tak ingin ku lepaskan pelukanku di pinggangmu. 

Kau lantas bertanya padaku di tengah-tengah perbincangan kita yang tidak terlalu penting. "Abis ini pulang sampe rumah terus ngapain Beb?"

Aku mengernyitkan dahi merasa agak bingung dengan pertanyaan itu. Namun, aku tersadar bahwa itu adalah pertanyaan dari salah satu bentuk kepedulianmu padaku. "Ohh....aku biasanya langsung mandi Sayang, terus beresin kamar. Emangnya kenapa?"

Kau terdiam sejenak mendengar jawabanku, lalu melanjutkan. "Hmm....emangnya selalu kayak gitu?--mandi malam-malam?"

"Iyaa Beby, kan aku sampe rumah ya sekitar jam delapan-an. Dan, kalo nggak mandi rasanya gerah," jawabku apa adanya, dengan tanpa ada maksud untuk menutupi apapun darinya. 

"Kalo nanti aku jadi suamimu terus aku ngelarang kamu mandi malam-malam, apa kamu masih tetep mandi juga?"

Sontak saja, kalimat itu seolah menggempur dada dan jantungku dengan bertubi-tubi. Antara tidak percaya dan percaya dengan apa yang ku dengar, suaraku seolah tercekat dan terhenti di tenggorokan. Lalu, aku berusaha mengeluarkan suaraku dan berkata, "Ya nggaklah Sayang. Kan kamu yang memintanya, artinya aku nggak akan ngelanggar dan nurut sama kamu." 

Samar aku melihatmu tersenyum ketika aku melihat ekspresimu dari balik punggungmu, dan aku semakin mempererat pelukanku. Jika aku diijinkan, rasanya aku tak ingin kehilangan malam itu bersamamu. Dan, aku tak ingin apapun mengubahmu dari malam itu hingga selanjutnya. Rasanya aku sanggup memberikan semua yang aku miliki untukmu, O.D. Demi itu, aku rela kehilangan apapun untuk menggantikannya. 

Hingga saat aku menuliskan kisah ini, aku masih belum sanggup memusnahkan kenangan indah yang telah kita ukir dan pondasi cinta yang telah kita tegakkan demi sebuah rasa. Mungkin iblis telah mengubah jalan pikiranmu, tapi aku takkan mengijinkan iblis mengubah jalan pikiranku juga.
Share: