Kisah Malam Mengenangmu

Aku memang orang yang tak bisa dengan mudah melupakan apapun yang menjadi milikku dan lantas hilang begitu saja terenggut paksa dari tanganku. Siapa yang rela melepaskan apa yang menjadi kesayangannya diambil orang lain? Tak satu pun! 

Semua hal yang terhubung denganmu akan selalu membekas dalam ingatanku--tanpa ada yang terlewat. Jika kau tanpa sengaja membaca tulisan ini, kau mungkin akan teringat dengan ucapanmu kala itu saat kau mengantarku pulang. Atau, entahlah jika kau dengan sengaja menghapus semua kenangan yang telah kita ukir bersama lantas kau hancurkan dengan tanpa ampun.

Malam itu sekitar pukul delapan lewat limabelas menit dan kau mengantarku pulang dengan motor biru hingga mendekati perumahan tempat di mana aku tinggal. Semua sungguh terasa indah jika aku bersamamu dan rasanya tak ingin ku lepaskan pelukanku di pinggangmu. 

Kau lantas bertanya padaku di tengah-tengah perbincangan kita yang tidak terlalu penting. "Abis ini pulang sampe rumah terus ngapain Beb?"

Aku mengernyitkan dahi merasa agak bingung dengan pertanyaan itu. Namun, aku tersadar bahwa itu adalah pertanyaan dari salah satu bentuk kepedulianmu padaku. "Ohh....aku biasanya langsung mandi Sayang, terus beresin kamar. Emangnya kenapa?"

Kau terdiam sejenak mendengar jawabanku, lalu melanjutkan. "Hmm....emangnya selalu kayak gitu?--mandi malam-malam?"

"Iyaa Beby, kan aku sampe rumah ya sekitar jam delapan-an. Dan, kalo nggak mandi rasanya gerah," jawabku apa adanya, dengan tanpa ada maksud untuk menutupi apapun darinya. 

"Kalo nanti aku jadi suamimu terus aku ngelarang kamu mandi malam-malam, apa kamu masih tetep mandi juga?"

Sontak saja, kalimat itu seolah menggempur dada dan jantungku dengan bertubi-tubi. Antara tidak percaya dan percaya dengan apa yang ku dengar, suaraku seolah tercekat dan terhenti di tenggorokan. Lalu, aku berusaha mengeluarkan suaraku dan berkata, "Ya nggaklah Sayang. Kan kamu yang memintanya, artinya aku nggak akan ngelanggar dan nurut sama kamu." 

Samar aku melihatmu tersenyum ketika aku melihat ekspresimu dari balik punggungmu, dan aku semakin mempererat pelukanku. Jika aku diijinkan, rasanya aku tak ingin kehilangan malam itu bersamamu. Dan, aku tak ingin apapun mengubahmu dari malam itu hingga selanjutnya. Rasanya aku sanggup memberikan semua yang aku miliki untukmu, O.D. Demi itu, aku rela kehilangan apapun untuk menggantikannya. 

Hingga saat aku menuliskan kisah ini, aku masih belum sanggup memusnahkan kenangan indah yang telah kita ukir dan pondasi cinta yang telah kita tegakkan demi sebuah rasa. Mungkin iblis telah mengubah jalan pikiranmu, tapi aku takkan mengijinkan iblis mengubah jalan pikiranku juga.

Komentar

Postingan Populer