What is Trust?

Jika berbicara tentang sebuah kepercayaan, tak ada satu manusia pun yang bisa kau percayai--pun, kau telah menganggapnya semisal 'sudah ku anggap seperti saudara sendiri'. Lantas, pada akhirnya apa yang kau dapat dari kepercayaan itu? Ujung-ujungnya seseorang itulah yang menusukmu dari belakang. Isn't it? Benar, kan, seperti itu? Manusia hanya bisa percaya pada satu-satunya yang membuat hidup; Tuhan; Allah SWT, no more. 

Dulunya, aku memang ada, dan bahkan sering ada di posisi seperti itu. Sejak aku duduk di bangku sekolah, aku kerap bermasalah dengan yang namanya pergaulan. Aku terlalu pendiam, dikenal sebagai anak kutu buku, tidak bisa bergaul, dan nyaris tidak memiliki teman. Temanku hanya buku-buku dan tempat favoritku adalah perpustakaan. Sekalinya aku bergaul, aku selalu dijadikan bahan olok-olok. Kalau bahasa kekiniannya sekarang korban 'bully' atau 'bullying'. Aku bukan tidak ingin berteman dengan manusia atau menjadi anak normal. Menurutku, membaca buku dan berdiam diri di perpustakaan lebih bisa memberikanku ketenangan. 

Seketika, aku memiliki teman; kali ini manusia, (bukan lagi buku). Hanya satu orang, dan menurutku itu sudah lebih dari cukup. Entahlah, mungkin karena efek perbedaan inilah aku seolah memanjakan temanku itu. Temanku ini sesama wanita, dan menurutku dia baik. Baik disini dalam artian, dia tidak seperti yang lainnya yang suka mem-bully-ku. Saat itu usiaku baru menginjak 12 tahun, dan aku pun berpikir bahwa mungkin sudah saatnya bagiku berteman dengan makhluk hidup, bukannya benda mati. 

Lambat laun, setelah aku merasa nyaman dengan teman ini; sebut saja namanya Sheli, dia mulai menunjukkan gelagat aneh. Dia tidak seperti yang ku pikirkan sebelumnya. Mungkin aku terlalu membuatnya nyaman dengan segala apa yang ku miliki. Aku selalu membelikannya makanan di kantin ketika istirahat sekolah, selalu meminjaminya kartu telepon elektronik (sekitar tahun 1996 belum ada handphone, kala itu rata-rata telepon masih menggunakan box telepon umum koin atau telepon umum kartu dengan menggunakan kartu--semacam kartu ATM--namun lebih tipis, keluaran Telkomsel dengan isian pulsa maksimal Rp.250.000,00), dan kartu elektronikku setiap bulan selalu diisi penuh oleh orangtuaku untuk kepentingan menelepon ke rumah, lalu aku pun kerap meminjaminya buku PR-ku untuk diconteknya; padahal dari segi nilai NEM masuk SMP Negeri kala itu, NEM ku masih jauh di bawah dia beberapa poin, tapi entah kenapa dia selalu ingin mencontek PR yang aku buat, dan masih banyak lagi. 

Menurutku, ini adalah dampak karena aku sering jadi korban bully, dan aku tidak memiliki teman, lantas ketika aku memiliki teman satu-satunya, maka aku memberikan segala-segalanya meski aku lebih banyak menderita kerugian di dalamnya. Dan, aku seolah menutup mata akan kenyataan itu; bahwa Sheli memanfaatkanku. 

Sheli yang tadinya kupikir bisa menjadi teman manusia bagiku, ternyata tidak sebaik yang kupikir. Dampaknya bagiku sungguh besar yang kesemuanya merugikanku. Mulai dari hal terkecil hingga permasalahan finansial ketika kartu telepon elektronik yang kupinjamkan padanya seketika ludes dengan tanpa ada sisa pulsa sepeser pun; padahal ketika itu masih di awal bulan dan aku sama sekali belum sempat menggunakannya, hingga ketika uang bulanan untuk antar-jemput sekolah yang secara tiba-tiba saja raib dari dalam tas ku, sehingga ketika aku akan memberikannya pada sopir antar-jemput ketika beliau mengantarkanku pulang, aku tak menemukan kartu pembayaran berisi uang itu di dalam tasku. Aneh, tapi ya itulah. Aku tidak menuduh siapa yang mengambilnya, tapi pada kenyataannya aku tidak memiliki teman siapapun kecuali Sheli.

Lantas kini, semua itu kembali terulang, hanya saja dengan konteks, peran, dan scene yang sedikit berbeda. Bukan lagi bully, tapi semacam hanya akibat yang ujung-ujungnya merugikanku dalam hal nama baik. Awalnya sama, aku terlalu percaya pada seseorang seperti yang dulu ku lakukan pada Sheli. Namun pada akhirnya, nama baikku lah yang aku pertaruhkan dalam dunia kerja. 

Memang, tak ada yang mengatakan bahwa dunia kerja itu lunak seperti makan marshmellow atau nasi dengan lauk ikan Bandeng berduri lunak. Dunia kerja itu keras dan sarat persaingan. Aku tahu. Namun, sekali pun aku tak pernah mengusik kepentingan orang lain, bahkan aku tak ingin terlibat dalam hal apapun yang sekiranya mengandung risiko. Tapi, kenapa mereka mengusikku? Itu yang ku sesalkan. Seseorang yang ku percaya, dengan sengaja memberikan informasi yang sebenarnya dia tahu bahwa itu adalah sesuatu yang aku tidak ingin orang lain mengetahuinya, kecuali aku dan dia saja. 

Apapun yang menyangkut masalah finansial atau keuangan itu adalah hal sensitif--dan kurasa semua orang mengetahuinya. Siapapun akan menyetujuinya bahwa masalah kuangan adalah masalah sensitif. Kemudian, ketika dia menyebarkan masalah keuanganku pada orang lain, apakah itu terlihat wajar?--meski sesungguhnya dalam konteks yang berbeda? Kurasa tidak. Aku juga tidak memahami apa maksudnya melakukan hal itu. 

Disini aku sedikit berpikir bahwa sudah saatnya aku tidak lagi terlalu memercayai siapapun, kecuali pada yang maha-memberi-hidup. Aku kecewa. Ya, aku pantas kecewa dengan semua yang harus aku terima mentah-mentah ini. 

Tapi, kembali aku harus kembali pada awal mulanya. Aku akan memperbaiki semua dan menyelesaikannya dengan caraku sendiri. Aku tak lagi ingin memberikan kepercayaan pada siapapun, kecuali jika memang ada seseorang yang benar-benar menunjukkan ketulusannya untuk membantuku.

Komentar

Postingan Populer