Luput dari Pemikiran

Sebelumnya aku tak pernah memikirkannya. Never. Tidak sama sekali. Lantas kenapa tiba-tiba saja segala sesuatunya lantas menyeruak? Ah, sudahlah. Aku tak mau lebih dalam memikirkannya, apalagi memperkarakannya. Hanya saja aku merasa ada sesuatu yang aneh. Dan, keanehan itu kemudian merebak jadi sesuatu dan kemudian menjawab semua segala pertanyaan yang bersarang di kepalaku.

Aku toh senang dan akan kusambut dengan suka cita semua apa yang ada saat ini. Allah, ini adalah anugerah Kuasa Yang MahaIndah--aku percaya itu. Namun, di sisi lain, aku sedih, karena keadaan yang memaksa ku harus seperti ini. Aku tak ingin lagi mempertanyakan tentang salah siapa. Tak ada yang perlu disalahkan. Ini adalah skenario Tuhan.

Pun, ini semua terjadi juga atas kehendak-Nya. Siapa pula yang ingin (yang rela) kehilangan orang yang mereka cintai? Tak satu pun, bukan? Tapi, apa yang bisa kau lakukan saat nasib telah membimbingmu ke jalan dimana ternyata kau harus kehilangan orang yang kau cintai? Apa kau akan berjalan mundur? It's impossible

Dulunya pun aku seperti itu. Hanya bisa menangis dan meratap saat apa yang sungguh ku cintai ternyata harus aku lepaskan atas paksaan yang tidak kuasa aku tentang; yang tidak bisa aku tawar lagi. Namun apa? Sekarang aku kembali dihadapkan pada suatu keadaan yang jauh di luar nalar pikirku--bahkan luput dari pemikiranku.

Tapi, tidak.
Aku takkan mengubah apapun apa yang telah menjadi bagian dari hidupku--meski belum seutuhnya. Sekeras apapun keinginanku untuk 'pulang'; sekencang apapun hati ini menggempur dan berteriak ingin 'kembali', ada satu hal yang jauh diatas keinginan-keinginan itu yang tidak bisa diusik. Satu hal itulah yang membuatku merasa nyaman dan merasa terlindungi, yang tak ingin aku sia-siakan demi apapun.

Aku memang tidak bisa memprediksi kehidupan. Aku hanya berusaha bersyukur dengan apa yang telah aku miliki saat ini. Ketika sebelumnya aku merasa tidak dihargai, selalu dikecewakan, merasa seolah 'dibuang' oleh kekasih yang sungguh sangat aku cintai dan aku dambakan, dan berbagai macam pengorbanan yang sudah aku berikan tanpa sedikit pun aku memedulikan hidupku sendiri--kini aku merasa seolah Tuhan mengujiku dengan memposisikan aku seperti itu. Roda memang selalu berputar, tapi manusia selalu memiliki akal dan hati nurani yang bisa dengan otomatis mengendalikan segala akhlak dan perbuatan yang telah dilakukan dan yang akan dilakukan. Semua tergantung dari masing-masing individu itu sendiri. Apakah ia memutuskan untuk mengikuti napsu iblis atau memilih untuk bertahan.

Komentar

Postingan Populer